Universitas Nasional Karangturi

Inovasi Pembungkus Makanan Ramah Lingkungan Berbasis Eceng Gondok

Penggunaan kemasan plastik banyak ditemukan di berbagai aspek kehidupan, seperti penggunaanya untuk kemasan makanan.

Editor: abduh imanulhaq
UNIVERSITAS NASIONAL KARANGTURI
Tim mahasiswa Teknologi Pangan Unkartur yang lolos Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) berinovasi dengan membuat kemasan makanan berupa edible film. 

Oleh: Rhema Alicia dan Amelia Griselda, Mahasiswa S1 Teknologi Pangan Unkartur Semarang

PENGGUNAAN kemasan plastik banyak ditemukan di berbagai aspek kehidupan, seperti penggunaanya untuk kemasan makanan. Namun, kemasan plastik yang cenderung susah terurai menimbulkan masalah baru bagi lingkungan hidup dan kesehatan.

Seiring perkembangan teknologi dalam pangan, muncul inovasi baru untuk membuat kemasan makanan yang ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan. Teknologi kemasan tersebut dinamakan edible film.

Edible film merupakan lapisan tipis yang terbuat dari bahan yang dapat dimakan. Edible film digunakan sebagai pelapis permukaan komponen makanan, yang berfungsi untuk menghambat migrasi kelembapan, oksigen, karbondioksida, aroma, dan lipid. Komponen dasar penyusun edible film yaitu hidrokoloid (protein, polisakarida, alginat), lipid (asam lemak, asilgliserol, wax atau lilin), dan komposit (campuran hidrokoloid dan lipid).

Menanggapi masalah kemasan plastik tersebut, Tim mahasiswa Teknologi Pangan Unkartur yang lolos Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) didanai Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi berinovasi dengan membuat kemasan makanan berupa edible film. Pengembangan edible film dilakukan oleh Lina Rohana, Amelia Griselda, dan Rhema Alicia di bawah bimbingan dosen Teknologi Pangan, Martina Widhi Hapsari, S.Si., M.Sc.

Bahan dasar pembuatan edible film menggunakan tanaman eceng gondok. Masyarakat sering beranggapan bahwa eceng gondok (Eichornia crassipes) merupakan tanaman gulma di beberapa wilayah perairan. Padahal, bila dimanfaatkan baik, eceng gondok bisa menjadi produk yang bermanfaat dan dapat meningkatkan nilai ekonomis dari tanaman tersebut. Eceng gondok memiliki sifat serat yang kuat dan kandungan kimia yakni 60% selulosa, 8% hemiselulosa, dan 17% lignin. Kandungan selulosa yang tinggi pada eceng gondok dapat digunakan sebagai komponen dasar pembuatan edible film.

Selulosa dari batang eceng gondok diperoleh dengan cara ekstraksi. Ekstraksi bertujuan untuk mendapatkan selulosa dengan menghilangkan komponen lain seperti hemiselulosa dan lignin. Penghilangan komponen tersebut dilakukan dengan menambahkan natrium hidroksida dan asam peroksida, sehingga didapatkan selulosa eceng gondok.

Selain selulosa eceng gondok, pembuatan edible film juga memerlukan gliserol yang berfungsi memberikan kelenturan dan juga karagenan yang dapat menambah nilai kuat tarik edible film. Setelah ketiga komponen ini dicampur dan dipanaskan, kemudian dilakukan pencetakan pada loyang dan dilakukan pengeringan pada suhu 50oC selama 15 jam. Hasil yang didapatkan berupa lembaran tipis bening seperti plastik yang disebut edible film.

Mahasiswa S1 Teknologi Pangan
Mahasiswa S1 Teknologi Pangan (IST)

Sekarang ini, sedang dilakukan penelitian edible film sebagai kemasan aktif pembungkus wingko. Selain dapat mengurangi kemasan plastik, penggunaan edible film juga mampu memperpanjang umur simpan dan menjaga mutu produk tersebut. Hasil penelitian diharapkan mampu menjadi sumber data ilmiah yang valid mengenai bahan pengemas produk pangan yang aman, sehat dan ramah lingkungan berbasis selulosa eceng gondok. (*)

Informasi lebih lanjut : Jl. Raden Patah No. 182-192, Semarang. Telp. 024-3545882/08112710322 atau IG @universitasnasionalkarangturi

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved