Breaking News:

Ekonomi Indonesia Bisa Terdampak Gagal Bayar China Evergrande

setiap turunnya 1 persen pertumbuhan ekonomi China akan berdampak pada penurunan perekonomian Indonesia sekitar 0,5 persen.

Editor: Vito
istimewa
ilustrasi ekonomi 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Ancaman krisis global datang dari potensi gagal bayar atau default China Evergrande, yang terjadi akibat raksasa properti asal China itu mengalami masalah likuiditas.

Kekhawatiran investor terhadap potensi gagal bayar atau default China Evergrande makin nyata. Sebab hingga Jumat (24/9), raksasa pengembang properti China itu masih kesulitan membayar utangnya.

Mengutip Reuters pada Jumat (24/9), perusahaan berutang 305 miliar dollar AS. Namun, China Evergrande telah kesulitan membayar bunga obligasi senilai 83,5 juta dollar AS yang telah jatuh tempo pada 23 September.

Pembayaran bunga 47,5 juta dollar AS lainnya harus dibayar pada 29 September untuk surat utang yang jatuh tempo pada Maret 2024.

Perusahaan saat ini memasuki masa tenggang 30 hari untuk menunaikan kewajibannya. Bila pembayaran tidak dilakukan, maka utang termasuk akan dinyatakan sebagai default.

Kepala ekonom BRI Danareksa Sekuritas, Telisa Aulia Falianty mengatakan, dampak secara langsung dari krisis China Evergrande ke perekonomian Indonesia tak besar. Namun, dampak tidak langsungnya perlu diwaspadai.

“Kasus ini diperkirakan bisa menggerus perekonomian China. Sementara, kondisi perekonomian kita dan China ini sangat berkaitan,” ujarnya, Rabu (22/9).

Telisa kemudian mengutip riset Bank Dunia, di mana menurut lembaga tersebut, setiap turunnya 1 persen pertumbuhan ekonomi China akan berdampak pada penurunan perekonomian Indonesia sekitar 0,5 persen.

“Inilah yang kita harus waspadai, karena dampak ke pertumbuhan China maka akan memberikan dampak spillover terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia,” jelasnya.

Sementara itu, kepala ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro menyatakan, hal yang bisa memengaruhi kondisi perekonomian Indonesia adalah terkait dengan harga komoditas.

Menurut dia, bila pertumbuhan ekonomi China ini nantinya akan tergerus akibat krisis Evergrande, maka bisa saja harga komoditas akan turun. Padahal, ekspor Indonesia sangat bergantung dengan harga komoditas.

Selain itu, China merupakan satu negara mitra dagang terbesar Indonesia. Sedangkan, satu komponen pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah kinerja ekspor.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, pemerintah mewaspadai dampak yang ditimbulkan akibat gagal bayar perusahaan asal China yakni Evergrande terhadap perekonomian Indonesia.

Menurut dia, situasi tersebut menyebabkan risiko baru dalam stabilitas sektor keuangan di China yang berpotensi berimplikasi pada mitra dagangnya, termasuk Indonesia. Hal ini mengingat Evergrande merupakan perusahaan konstruksi kedua terbesar di China(Tribunnews.com/Kontan.co.id)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved