Menkeu Sebut Perbaikan Kasus Covid-19 Pacu Pemulihan Ekonomi Berjalan Lagi

keberhasilan penanganan kasus covid-19 berkorelasi positif dengan berjalannya lagi pemulihan ekonomi nasional.

Editor: Vito
Kompas.com/Istimewa
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.(BPMI Setpres) 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan, keberhasilan penanganan kasus covid-19 berkorelasi positif dengan berjalannya lagi pemulihan ekonomi nasional.

Menurut dia, Indonesia sudah melewati puncak gelombang kedua Covid-19, di mana pernah menyentuh 50.039 kasus harian, sementara kini berada di bawah 3.000 kasus.

Upaya pemerintah untuk menjaga dan mengendalikan penyebaran itu dilakukan melalui pelaksanaan program vaksinasi, penerapan kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat, dan upaya penyembuhan pasien covid-19.

“Ini adalah kemajuan yang memberikan rasa optimisme. Nanti yang kami harapkan akan diterjemahkan dalam kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat,” ujarnya, dalam konferensi pers APBN Kita edisi September, secara daring, Kamis (24/9).

Sri Mulyani berujar, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi kuartal III/2021 di kisaran 4-5 persen. "PPKM di seluruh Indonesia memberikan dampak positif. Kalau kita lihat growth kuartal ketiga, proyeksinya meningkat menjadi 4-5 persen," ucapnya.

Ia memandang efektivitas PPKM menjaga momentum pemulihan ekonomi di 2021. "Kondisi pandemi covid-19 akibat varian delta terkendali lebih cepat dengan dampak yang tidak terlalu dalam terhadap mobilitas," ujarnya.

Proyeksi pada kuartal III itu memberikan optimisme untuk pertumbuhan PDB pada kuartal IV/2021 yang lebih baik. Hal ini tentunya dengan asumsi varian baru akibat aktivitas dapat diatasi.

"Harapannya mobilitas tidak harus diinjak rem lagi, karena dihadapkan kenaikan jumlah kasus covid-19 hingga menimbulkan ancaman kematian," ujarnya.

Sri Mulyani menjelaskan, pemulihan ekonomi ditunjukkan dengan membaiknya indikator perekonomian.

"Aktivitas masyarakat berada dalam tren kenaikan, yang ditunjukkan pada google mobility report dari sisi retail and recreation, grocery and pharmacy, maupun secara agregat yang meningkat," katanya.

Selain itu, aktivitas di tempat penjualan ritel menuju level positif, dan penjualan kebutuhan sehari-hari masyarakat semakin meningkat.

Dari sisi konsumsi, aktivitas berangsur membaik meskipun masih tertahan, ditunjukkan melalui retail sales index dan Mandiri spending index yang mengalami kenaikan sebagai indikasi peningkatan.

Namun, Sri Mulyani menuturkan, tingkat kepercayaan masyarakat untuk kembali melakukan konsumsi masih lebih rendah dari sebelum covid-19. Selain itu, dari sisi produksi juga mengalami perbaikan dan meningkat guna memenuhi kebutuhan dalam dan luar negeri.

Hal itu ditunjukkan dengan purchasing manager indeks (PMI) manufaktur yang membaik, meski masih berada di zona kontraksi, konsumsi semen dan volume impor besi baja yang tumbuh, konsumsi listrik yang meningkat, utamanya didorong konsumsi listrik industri, dan pertumbuhan impor bahan baku dan barang modal.

Terjadinya surplus neraca perdagangan mencapai 4,74 miliar dollar AS, sekaligus menjadi tertinggi dalam sejarah Indonesia, turut membuktikan terjadinya pemulihan perekonomian.

Eks Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menambahkan, kinerja ekspor, terutama didorong melalui peningkatan volume ekspor utama seperti CPO, batu bara, dan besi baja.

Sementara itu, dari sisi kinerja impor didorong karena adanya permintaan domestik untuk kebutuhan industri serta konsumsi.

“Ini menggambarkan pemulihan ekonomi yang cukup solid yang kita harapkan akan terus berjalan,” terangnya. (Tribunnews/Yanuar Riezqi Yovanda/Reynas Abdila)

Sumber: Tribunnews.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved