Breaking News:

Pendidikan

Profesor Undip Kembangkan Radar Berteknologi CP-SAR untuk Observasi Planet hingga Kontra Terorisme

Bahkan radar teknologi CP-SAR ini bisa menembus bangunan, vegetasi atau pemukaan tanah sehingga dapat digunakan untuk anti-teror.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: M Syofri Kurniawan
Dok Pribadi
Radar teknologi CP-SAR yang dikembangkan profesor Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip Semarang, Prof. A Hartoko. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Seorang profesor di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip Semarang, Prof. A Hartoko, mengembangkan teknologi radar baru yang disebut Circular Polarization Synthethic Apeture Radar (CP-SAR).

Pengembangan teknologi radar tersebut tak lepas dari kerjasama yang sudah terjalin 15 tahun antara dosen FPIK Undip dengan Prof. Josaphat, Guru Besar Tetap di Chiba University, Jepang.

Prof. Josaphat adalah seorang pakar yang mendesain dan membangun berbagai jenis radar dan dipakai di berbagai negara.

Baca juga: Putra Presiden Brasil Jair Bolsonaro Positif Covid-19 Sepulang dari Sidang Umum PBB

"Fungsi radar ini di antaranya untuk observasi bumi maupun planet lain di tata surya seperti Mars dan lainnya," kata Prof. Hartoko, dalam rilisnya, Sabtu (25/9/2021).

Selain itu, katanya, radar teknologi CP-SAR juga digunakan untuk sistem pertahanan mobile monitoring baik di darat, pergerakan kapal di laut atau pergerakan pesawat udara, baik pada siang atau malam hari.

Bahkan radar teknologi CP-SAR ini bisa menembus bangunan, vegetasi atau pemukaan tanah sehingga dapat digunakan untuk anti-teror (contra terorism), pemantauan gunung berapi, longsor, banjir, dan lainnya.

"Perangkat radar dengan beberapa ukuran yang berbeda dapat di pasangkan pada drone/UAV, pesawat udara dan bisa berupa radar yang mengorbit bumi," tuturnya.

Khusus kerjasama dengan FPIK Undip, katanya, dikembangkan untuk aplikasi pemantauan gelombang laut, coastal geo-dynamic seperti pergerakan tanah di pantai (land deformation, land subsidence), sedimentasi, erosi, pencemaran minyak di laut.

"Hal itu bisa digunakan sebagai dasar perencanaan wilayah dan desain infrastruktur pantai," jelasnya.

Teknologi mutakhir yang dikembangkan adalah untuk mendeteksi dan rekonstruksi wilayah cekungan pantai, laut purba (paleo-osanografi) seperti di Sangiran, Grobokan, selat Muria, Wamena Papua, pertemuan 3 lempeng benua di Palu, situs Sriwijaya di Palembang, dan lainnya.

"Sehingga bisa menjadi dasar desain pembangunan infrastruktur jalan, pelabuhan, dan perkotaan," pungkasnya. (Nal)

Baca juga: Joy Tobing Mau Diajak Berumah Tangga meski Baru Kenal 3 Hari

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved