Breaking News:

Berita Karanganyar

Menilik Makam Amir Syarifuddin di Karanganyar, Menteri Pertahanan Era Soekarno

Termasuk kijing makam Amir Syarifuddin serta deretan kijing di sampingnya. Amir merupakan tokoh yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri dan Mente

Penulis: Agus Iswadi | Editor: m nur huda
Tribun Jateng/Agus Iswadi
Penampakan makam milik Amir Syarifuddin di Lingkungan Ngaliyan Kelurahan Lalung Kecamatan/Kabupaten Karanganyar. 

TRIBUNJATENG.COM, KARANGANYAR - Pemakaman umum di Lingkungan Ngaliyan Kelurahan Lalung Kecamatan/Kabupaten Karanganyar sekilas tampak seperti komplek makam pada umumnya.

Dari pantauan di lokasi, rumput dan tanaman liar tumbuh di beberapa kijing yang berada di komplek makam tersebut.

Termasuk kijing makam Amir Syarifuddin serta deretan kijing di sampingnya.

Amir merupakan tokoh yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Indonesia era Soekarno.

Dilihat dari struktur bangunan, makam Amir dibangun berderet dengan makam disampingnya.

Total ada 11 makam.

Makam milik Amir terlihat mencolok dengan kijing keramik warna merah.

Terpahat di nisan tersebut, Amir meninggal dunia di Ngaliyan pada 19 Desember 1948.

Warga sekitar, Sugiyato (69) menyampaikan, deretan 11 makam ini dulu pernah dibongkar kemudian dibangun lagi.

Akan tetapi dia tidak tahu persis siapa yang membangun kembali deretan makam tersebut.

Dia menceritakan, dulunya warga kampung diminta mempersiapkan liang lahat untuk pemakaman 11 orang termasuk Amir.

"Niki sek nduduk kampung mas (ini yang membuat liang lahatnya warga kampung). Ceritane bapak kaliyan mbah-mbah (cerita ayah dan sesepuh)," katanya  kepada Tribunjateng.com saat berbincang di komplek makam, Sabtu (25/9/2021).

Lanjutnya, kemudian setelah liang lahat selesai, warga diminta supaya berada di dalam rumah dan tidak boleh keluar setelah pukul 24.00.

"Mangke jam kalih welas, mboten angsal medal, ten nggriyo (setelah pukul 24.00, tidak boleh keluar dan berada di dalam rumah),"

Dia menuturkan, terkadang ada orang yang mengunjungi deretan makam tersebut. Dahulunya kawasan ini sudah menjadi komplek makam kampung sebelum adanya 11 deret makam itu. 

"Ngertos niku awit cilik (tahu ada 11 makam itu sejak kecil). Warga mriki sek ngertos nggeh sek sepuh-sepuh (warga sekitar yang sudah tua tahu makam itu)," ucapnya.

Dia mengungkapkan, makam kampung ini tidak ada juru kuncinya. Hanya saja apabila ada orang yang hendak membersihkan makam, terkadang meminta pertolongan kepada warga sekitar. (Ais).

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved