Breaking News:

Puisi

Puisi Waktu Emha Ainun Nadjib

Puisi Waktu Caknun Emha Ainun Nadjib: Waktu menapaki tanah Waktu bersijingkat, amat perlahan, di jalanan desaku Jika saja diperkenankan,

Penulis: iam | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
Ribuan warga masyarakat Semarang dan Jamaah Maiyah tumpah ruah memadati Klenteng Sam Poo Kong dalam acara "Sinau Bareng Cak Nun, Kiai Kanjeng Bersama Polda Jateng, Sam Poo Kong dan Tribun Jateng" yang belangsung Kamis (18/4/2019) malam. 

Puisi Waktu Emha Ainun Nadjib

TRIBUNJATENG.COM - Puisi Waktu Caknun Emha Ainun Nadjib:

Waktu

Waktu menapaki tanah
Waktu bersijingkat, amat perlahan, di jalanan desaku
Jika saja diperkenankan,
Waktu pengin tinggal abadi padanya,
Waktu tak akan pergi darinya

Sedangkan di kota-kota Waktu melintas sesaat dan
bernapsu cepat-cepat minggat
Karena kota lupa padanya
Karena kota merengkuh Waktu,
mengepaknya dalam paket-paket
Karena kota menghinakannya,
menyamakannya dengan lempengan mata uang!

Waktu hinggap di pucuk-pucuk pepohonan,
menggerakkan dedaunan
Waktu bernyanyi di paruh burung-burung
Waktu mengaliri sungai-sungai, sampai ke seribu muara,
menjadikan samudera bergolak,
beribu samudera menjadi lingkaran sungai-sungai
Waktu berlompatan dari planet ke planet, dari galaksi ke galaksi
Pada langkahnya yang kedua ilmu pengetahuan manusia
mulai diejeknya, lantas pada langkah ketiga
kesombongan peradabanmu
akan sudah sangat memuakkannya

Waktu melewatimu, menyentuh tengkukmu dan
saat itu juga meninggalkanmu
Waktu mengucapkan salamnya kepadamu setiap
sepertakterhingga detik, menjadikanmu berusia setahun, dua
tahun, tiga tahun
Berusia setahun, dua tahun, tiga tahun,
tanpa pernah usia itu menjadi milikmu,
karena pertambahan kehadiran
Waktu padamu adalah pengurangan jatahnya atas hakmu
Waktu hadir di malam pesta ulang tahunmu,
untuk mengingatkan bahwa yang bisa ia ucapkan kepadamu
hanyalah selamat tinggal yang pedih

Waktu berpapasan dengan usiamu: Siapakah engkau?
Engkau adalah tegangan yang muncul
tatkala mereka bersalaman
Waktu bertegur sapa dengan usiamu:
Siapakah namamu? Ialah sekelebatan
bayangan yang melintas ketika sorot mata mereka bertemu
Waktu berderak-derak menghambur ke satu arah,
dan usiamu melaju berlari ke arah yang sebaliknya
Waktu senantiasa mengucapkan janji kepadamu
untuk bertemu pada suatu hari
di halaman rumah Tuhan, namun belum pernah didengarnya
sungguh-sungguh dari mulutmu jawaban atas janji itu

Waktu senantiasa mengulangi sumpah cintanya
Jika dari mulutmu ia cium bau harum karena kemuliaan hatimu,
maka dijunjungnya engkau
Jika dari badanmu ia hirup bau busuk
karena ambisi dan keserakahan,
maka usiamu menjadi sampah,
ia campakkan ke ruang-ruang kehinaan

1993

(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved