Breaking News:

Unsoed Purwokerto

Unsoed Purwokerto Adakan Coaching Clinic Kebijakan Energi Baru Terbarukan di Indonesia

Society of Renewable Energy Universitas Jenderal Soedirman (SRE Unsoed) Purwokerto mengadakan Coaching Clinic seri ke-4.

Editor: abduh imanulhaq
UNSOED
Coaching Clinic Kebijakan Energi Baru dan Terbarukan oleh SRE Unsoed Purwokerto 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Society of Renewable Energy (SRE) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto mengadakan Coaching Clinic seri ke-4 secara daring pada 24 September 2021.

Coaching clinic ini bertemakan “Sejauh Mana Kebijakan Energi Baru dan Terbarukan di Indonesia”.

Pemateri adalah Bapak Ariana Soemanto, Kabag. Komunikasi dan Layanan Informasi Publik, Kementerian ESDM.

Kegiatan ini diikuti semua anggota SRE Unsoed dan beberapa undangan lain.

Hadir dalam acara ini Kasi Bimtek Konservasi Energi Eko Sudarmawan, Kasubdit Kerjasama dan Bimbingan Teknis Konservasi Energi, Hendro Gunawan Manajer PLN ULP Purwokerto, Maulana  dari Komunitas Panel Surya Indonesia, dan perwakilan institusi lain.

Ariana Soemanto memaparkan beberapa kondisi dan kebijakan energi di Indonesia mulai dari sektor migas, batubara, dan EBT (Energi Baru dan Terbarukan) serta peran mahasiswa dalam mendukung transisi menuju EBT.

Peserta Coaching Clinic Menyimak Paparan Nara sumber secara daring
Peserta Coaching Clinic Menyimak Paparan Nara sumber secara daring (IST)

“Pada sektor migas, perbandingan antara supply-demand minyak di Indonesia saat ini masih belum seimbang dimana daya konsumsi masyarakat lebih tinggi dibanding daya produksi yang tersedia sehingga mengharuskan Indonesia mengimpor minyak dari negara lain, sebaliknya perbandingan antara supply-demand gas sudah sangat menguntungkan karena daya produksi lebih tinggi dari pada daya konsumsi masyarakat yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara pengekspor gas,” ungkap Ariana.

Disampaikan pula dalam upaya menuju zero emission, pemerintah melalui Kementerian ESDM memilki segudang rencana untuk menggapai tujuan tersebut.

Di antaranya pengembangan pembangkit EBT (mulai dari implementasi Perpres terkait harga EBT sampai co-firing biomassa untuk PLTU), PLTU yang habis masa kontraknya tidak diperpanjang, percepatan kendaaran listrik sampai perluasan kompor listrik.

Untuk mengakselerasi bauran EBT 23%, tidak bisa hanya direalisasikan oleh pemerintah saja.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved