Breaking News:

Berita Tegal

Warga Binaan Lapas Slawi Bikin Sarung Tenun Goyor: Upahnya Rp 30 Ribu

Warga Binaan Lapas Slawi Kabupaten Tegal membuat sarung tenun goyor untuk tambahan uang jajan.

Tribun Jateng/ Desta Leila Kartika
Anda (51) penghuni lapas kelas llB Slawi Kabupaten Tegal yang saat ini aktif membantu produksi sarung tenun goyor. Ia sedang melanjutkan aktivitas nya bersama teman-teman lapas yang lain, Senin (27/9/2021).  

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Banyak hal positif yang bisa didapat saat memutuskan untuk mengikuti pelatihan membuat sarung tenun goyor, seperti memiliki penghasilan sendiri, sampai memenuhi kebutuhan sendiri saat berada di lapas tanpa merepotkan keluarga di rumah. 

Inilah sepenggal pengalaman yang dialami oleh Anda (51), warga binaan lapas kelas llB Slawi yang saat ini aktif memproduksi sarung goyor bersama teman-teman nya sesama penghuni lapas. 

Warga asli Jakarta Barat ini bercerita, ia berada di Lapas Kelas llB Slawi sejak tahun 2018 lalu dan mulai belajar menenun atau membuat sarung goyor di tahun 2020. 

Awal ketertarikannya muncul karena termotivasi dengan cerita pemilik Fahaltex Fahmi Lukman Alkatiri yang memiliki saudara di lapas kemudian meninggal dunia.

Semenjak itu Fahmi memiliki keinginan supaya warga binaan juga bisa berproduksi dan kebetulan ia memiliki usaha sarung tenun goyor, akhirnya menyasar lapas dan membina penghuninya supaya melakukan kegiatan yang bermanfaat.

"Dari situ saya mulai terinspirasi dan tertarik untuk mengikuti pelatihan membuat sarung goyor ini. Kalau saya biasanya menyelesaikan satu sarung ukuran 4 meter itu antara sehari atau 1,5 hari. Upah yang saya terima Rp 30 ribu per sarung," tutur Anda, saat ditemui Tribunjateng.com, Senin (27/9/2021).

Ditanya membutuhkan waktu berapa lama belajar membuat sarung dari awal sampai sekarang, Anda mengaku kurang lebih hanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan. 

Sedangkan proses tersulit saat membuat sarung tenun goyor yaitu ada di pembentukan pola nya, karena harus menyambung dan tidak boleh sampai salah. 

Adanya pelatihan yang diselenggarakan KPwBI Tegal pun disambut positif oleh Anda dan teman-temannya karena bisa semakin mengasah kemampuan. 

"Kalau mesin tidak rewel (rusak atau ngadat) saya bisa menghasilkan sampai 15 sarung per bulan. Uang hasil membuat sarung saya gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di lapas, ya alhamdulillah tidak merepotkan keluarga lagi karena disini sudah ada pemasukan. Sebelumnya kadang keluarga mengirim misal saya telfon dan meminta kalau sekarang sangat jarang," ujarnya. 

Anda merupakan narapidana kasus narkotika yang dihukum penjara selama 10 tahun 2 bulan. 

Sebelumnya ia pernah mendekam di rutan Palembang, lalu di pindah ke lapas narkotika Cipinang, dan saat ini di lapas kelas llB Slawi

"Saya tidak menampik setelah bebas dari sini saya ingin melanjutkan usaha yang sama di rumah atau produksi sendiri dan mengajarkan orang di sekitar. Tapi ya belum tahu kedepannya bagaimana nanti," ungkapnya. (dta)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved