Berita Sragen

Cara Pemkab Sragen Menangkal Penularan Virus Corona di Sekolah

Antisipasi klaster Pembelajaran Tatap Muka (PTM), Pemkab Sragen melalui Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) melakukan swab antigen random di sekolah.

Tribun Jateng/ Mahfira Putri Maulani
Ujicoba pelaksanaan pembelajaran tatap muka di SDN 04 Sragen beberapa bulan lalu. 

TRIBUNJATENG.COM, SRAGEN – Antisipasi klaster Pembelajaran Tatap Muka (PTM), Pemkab Sragen melalui Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen melakukan swab antigen random di sekolah-sekolah.

Bupati Sragen Kusdinar Untung Yuni Sukowati mengatakan pihaknya setiap hari telah melakukan random testing swab ke sekolah baik SMP hingga SMA.

Bupati menjelaskan random testing swab ini dilakukan tidak terjadwal, sehingga secara dadakan DKK dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan langsung ke sekolah-sekolah.

Orang nomor satu di Sragen itu mengaku random testing swab ini tidak hanya dilakukan Pemkab Sragen, namun juga dari kepolisian.

"Kemarin di SMP 4 Kapolres datang beserta jajaran melakukan sampling test 200 murid, Alhamdulillah negatif Covid-19 semua. Alhamdulillah setiap kami test random hasilnya negatif," terang Bupati.

Meskipun sejauh ini hasil random testing swab negatif Covid-19, Yuni mengaku memiliki management sistem tersendiri apabila ditemukan ada yang positif Covid-19.

Seperti jika ada yang positif 2 dari 200 sampel pihaknya tidak akan serta-merta menutup sekolah, atau Pembelajaran Tatap Muka (PTM) dihentikan.

Pihaknya hanya akan melakukan tracing delapan orang yang kontak erat, baik di rumah maupun sekolah sesuai dengan instruksi dari kementerian.

"Paling kita perlebar ke satu kelas, sudah setelah itu mereka istirahat kita lakukan Isoter (isolasi terpusat), kita beri obat," lanjut Yuni.

Yuni mengaku akan meminta dukungan dari DPRD dan DKK agar tidak panic attack untuk menutup sekolah apabila ditemukan siswa yang hasil random testing positif Covid-19.

Kualitas Pendidikan

Hal ini dikatakan Yuni akan berpengaruh terhadap hasil pembelajaran anak.

Pembelajaran daring dikatakan Yuni kualitasnya jauh turun dibandingkan dengan PTM di sekolah.

"Saya merasakan sendiri bahwa kualitas mereka (anak-anak) dengan belajar dirumah sangat menurun. Anak-anak kita kompleks ada yang susah sinyal dan masalah lainnya," katanya.

Dirinya juga menjumpai anak kelas 3 SD masih belum bisa baca tulis.

Dengan ini dirinya memastikan bahwa sekolah tetap menjalankan PTM, namun apabila ada sekolah yang belum siap, PTM akan ditunda.

Bahkan dirinya meminta Disdikbud Sragen membuat tim khusus untuk mengecek Prokes di sekolah-sekolah baik SD maupun SMP. (uti)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved