Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Kesehatan

Kiteja, Rempah Kaya Manfaat

Bagi masyarakat Jawa, Kiteja bukan hal yang baru lagi. Secara tradisional masyarakat sudah memanfaatkannya.

Editor: galih permadi
Budi Santoso/BKSDA Jateng
Kiteja, Rempah Kaya Manfaat 

TRIBUNJATENG.COM - Bagi masyarakat Jawa, Kiteja bukan hal yang baru lagi. Secara tradisional masyarakat sudah memanfaatkannya.

Penampakannya memang seperti kayu manis, itu karena Kiteja satu keluarga dengan Kayu manis.

Kiteja atau Cinnamomum iners, dikenal juga sebagai medang kemangi, kayu manis hutan, teja atau kiteja.

Selain digunakan sebagai bumbu dapur, ia seringkali dimanfaatkan masyarakat sebagai tanaman obat.

Tanaman ini berasal dari keluarga Lauraceae yang digolongkan sebagai tumbuhan rempah-rempah berwujud pohon.

Manfaat
Daun tanaman ini banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk meredakan demam, masalah sistem pencernaan dan sebagai karminatif.

Kulit kayu kiteja digunakan sebagai agen detoksifikasi herbal dan juga dapat dimanfaatkan menjadi teh dan bumbu dapur.

Kandungan terpen dan minyak esensial yang terdapat di kulit kayu juga dapat diekstrak menjadi obat nyamuk.

Akarnya juga sangat populer dalam perawatan pascapersalinan untuk memperbaiki aliran darah dan kontraksi rahim.

Sementara itu, kayunya dapat digunakan untuk perabotan rumah tangga.

Morfologi
Pohon Kiteja dapat mencapai ketinggian 24 m dan diameter 60 cm, batang kulitnya berwarna coklat keabu-abuan, licin, dengan lentisel.

Duduk daun sub oposit atau oposit, kaku seperti kulit, berbentuk elipt-oblong, ujung obtuse-acuminate pendek, tiga tulang daun, ukuran daun 5-30 x 2,5-13 cm.

Bunga berwarna keputih-putihan, dengan panjang 5-7 mm. Buah berbentuk oblong dalam carpel dengan ukuran 1,5 x 1 cm.

Ekologi
Tumbuhan di daerah tropis lembab, ditemukan pada ketinggian rendah hingga sedang dengan spesimen sesekali ditemukan hinga ketinggian 2.400 meter.

Seringkali merupakan pohon bawah dari hutan campuran dipterokarpa dan sub-pegunungan yang tidak terganggu sampai sedikit terganggu.

Tanaman sangat toleran terhadap tanah yang buruk di alam liar, di mana mereka masih tumbuh cukup cepat. Tersebar di lereng-lereng bukit dan pinggir sungai.

Kandungan Kimia
Senyawa bioaktif utama yang diidentifikasi dalam daun Kiteja adalah cinnamic aldehida, 2-hidroksisinamaldehida, cinnamophilin, caryophyllene, caryophyllene oxide, hidroksikalkon, kumarin eugenol, safrole, geraniol, xanthorrhizol dan jam kamper.

Minyak atsiri kulit batang mengandung 1,8-cineole sebagai senyawa pinene, myrcene, phellandrene, terpinolene, terpineol, linalool dan caryophyllene oxide.

Saponin, terpene, eugenol, aldehida sinamat, benzaldehida dan safrol ditemukan pada akar tanaman ini (Mustaffa, 2012).

Sebaran
Kiteja merupakan tumbuhan yang tersebar di wilayah Asia seperti India, Myanmar, Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapura, Brunei, dan Filipina. Di Indonesia tumbuhan ini sering dijumpai di daerah Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan dimanfaatkan sebagai tanaman rampah dan obat.

Pesebaran merata terjadi di wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Pati Barat. Sehingga pohon Kiteja dapat dijumpai di wilayah Cagar Alam (CA) Kembang, CA Keling 1abc, CA Keling II/III dan CA Gunung Clering yang terletak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Penulis

Budi Santoso
PEH Muda pada BKSDA Jateng
Kepala PHK Pati Barat

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved