Breaking News:

Bahlil Pastikan Kemudahan Investasi Asing: Indonesia Masuk Fase Baru

Indonesia telah masuk fase baru di mana pemerintah telah melakukan reformasi UU yang tumpang tindih menjadi satu, tergabung pada UU Cipta Kerja

Editor: Vito
TRIBUNNEWS/FITRI WULANDARI
Kepala BKPM Bahlil Lahadalia 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia mengajak dunia usaha di negara lain untuk berinvestasi di Indonesia.

Ia memastikan, pemerintah akan membantu mempermudah urusan investasi bagi investor, termasuk dengan pemberian insentif.

Bahlil juga menawarkan biaya lebih murah apabila para investor asing tertarik untuk berinvestasi. Asalkan, investor asing mau membawa teknologi dan sebagian pasarannya ke Indonesia.

"Dengan kata lain silakan teman-teman dunia usaha datang ke Indonesia dengan membawa teknologi, membawa kapital, dan sebagian pasar. Biarlah pemerintah Indonesia yang mengurus perizinannya, insentif, dan lahannya," katanya, dalam webinar virtual Indonesia Investment-Singapura, Rabu (29/9).

Ia memastikan Indonesia telah masuk fase baru di mana pemerintah telah melakukan reformasi undang-undang yang tumpang tindih menjadi satu, tergabung pada Undang-undang Cipta Kerja.

Kemudian, mengurus perizinan pun mudah, hanya melalui online single submission (OSS). Seluruh perizinan di kementerian/lembaga semua sudah terpusat di Kementerian Investasi lewat OSS. Tidak hanya persoalan perizinan, tapi juga termasuk insentif fiskal.

Bahlil mengatakan, di hampir semua negara, termasuk Indonesia, investor yang masuk membutuhkan empat hal, yaitu kemudahan, kepastian, efisiensi, dan transparansi.

"Kami hadir untuk melakukan respon terhadap aturan dalam rangka menjawab apa yang diinginkan para pelaku usaha," ujarnya.

Dia menambahkan, Indonesia kini mulai berupaya mengembangan energi ramah lingkungan atau green energy. Satu fokusnya adalah kebijakan investasi khususnya menyangkut dengan kendaraan listrik.

"Sebab kita tahu, bahan baku dari baterai mobil sebagian besar ada di Indonesia, kobalt dan mangan setelah lithiumnya. Secara kebetulan, Indonesia mempunyai cadangan nikel dunia sebesar 20-24 persen, dan ini semuanya ada di Indonesia," paparnya.

Dengan membangun pabrik baterai di Indonesia, Bahlil menyatakan, maka akan memberi nilai tambah bagi para investor asing serta efisiensi biaya produksi. Terlebih, kini RI sedang meningkatkan pembangunan energi listrik yang ada di Papua dan Kalimantan.

"Terkait dengan energi, Indonesia mempunyai potensi energi baru terbarukan yang sangat luar biasa, mempunyai 12.000 megawatt yang ada di Kayang, Kalimantan Utara, mempunyai 23.000 MW untuk PLTA di Papua," terangnya. (Kompas.com/Ade Miranti Karunia)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved