Breaking News:

Hongkong Excellen-SILO Bangun Smelter Bahan Baku Baterai Mobil Listrik di Kotabaru

Investasi proyek itu mencapai 65 juta dollar AS, dengan target produksi mulai Mei 2022, yakni akan memproduksi ferronickel sekitar 80 ribu ton/tahun.

Editor: Vito
ISTIMEWA VIA TRIBUNNEWS
Peresmian ground breaking proyek smelter RKEF PT Excellen Silo Ferroalloy, kerja sama antara Hongkong Excellen dan PT Sebuku Iron Lateritic Ores (SILO), di Kotabaru, Kalimantan Selatan, Rabu (29/9). 

"Kami menargetkan akan berproduksi pada Mei 2022. Pada tahap pertama, Smelter yang ramah lingkungan ini nantinya akan memproduksi ferronickel sekitar 80 ribu ton/tahun, dan akan secara langsung menyerap 350 orang lebih karyawan dari penduduk lokal," paparnya.

Selanjutnya, dia menambahkan, proyek tahap kedua adalah smelter leaching yang memproduksi bahan baku baterai mobil listrik dengan nilai total investasi sebesar 220 juta dollar AS, di mana direncanakan pembangunan dimulai pada awal 2022, dan commissioning produksi pada Juli 2023.

Presiden Direktur PT SILO, Effendy Tios menyatakan, industri ini memberdayakan cadangan mineral dari Pulau Sebuku yang memiliki potensi sangat besar.

"Selama kita menjalankan dengan baik, apalagi dengan teknologi yang efisien dan ramah lingkungan seperti smelter ini, maka cadangan mineral ini tidak akan habis sampai 50 tahun ke depan," terangnya.

Diharapkan, pembangunan smelter itu akan segera menggerakkan industri terkait, serta meningkatkan perekonomian dan taraf hidup masyarakat. "Semua industri terkait akan berjalan, pajak dan pendapatan negara akan meningkat, lapangan pekerjaan terbuka lebar, dan ekonomi masyarakat akan lebih baik," tuturnya.

Effendy Tios menegaskan, PT SILO sebagai perusahaan dalam negeri yang berkomitmen terus menjadi perusahaan Nasionalis tidak akan menjual izin tambang atau saham ke perusahaan asing.

"Dalam kerja sama ini, SILO menjadi suplayer bahan baku, sehingga perusahaan tetap independen dikelola sesuai undang-undang, dengan memperhatikan kepentingan negara Indonesia," ujarnya.

Ia menyebut, efek ekonomi yang paling dirasakan masyarakat adalah ketersediaan listrik selama 24 jam, serta tumbuhnya beberapa jaringan telekomunikasi.

"Karena listriknya sudah tersedia, maka jaringan komunikasi juga bermunculan. Beberapa BTS dibangun, komunikasi telepon seluler makin lancar," ucapnya.

Dalam kesempatan yang sama, GM PLN Area Kalselteng, Tonny Bellamy mengungkapkan, saat ini suplai jaringan PLN se-Kalimantan sudah terkoneksi dengan baik. Bahkan, PLN masih memiliki over produksi sekitar 560 Megawatt yang belum terserap pasar.

"Karena itu, berdasarkan intruksi Kementerian ESDM serta Kemenko Maritim dan Investasi, untuk percepatan investasi dan produk unggulan, serta program peremajaan dan distribusi listrik ke desa-desa, PLN berkomitmen untuk menyuplai listrik ke Pulau Sebuku. Dan seperti diketahui, PT SILO grup merupakan pelanggan tegangan tinggi pertama di Kalimantan Selatan, sehingga harus dibangun gardu induk," tegasnya.

Dengan dibangunnya Gardu Induk di SILO itu, Tonny berujar, listrik masyarakat di area Pulau Sebuku menjadi lebih lancar karena disuplai nonstop selama 24 jam. "Jadi jauh lebih baik, karena sebelumnya hanya menggunakan PLTD yang terbatas, sehingga hanya untuk malam hari," tukasnya. (Tribunnews/Hasanudin Aco)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved