Breaking News:

Berita Semarang

Nilai Tukar Petani Jateng Naik 0,95 Persen pada Bulan September 2021

BPS Jateng mencatat, NTP Jateng bulan September 2021 mengalami kenaikan 0,95 persen.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: sujarwo
TribunJateng.com/Rifqi Gozali
Ilustrasi. Sejumlah petani di Desa Kesambi, Mejobo, Kudus menunjukkan hasil panen cabai di lahannya, Jumat (30/7/2021). Harga cabai musim panen kali ini dari petani paling tinggi hanya Rp 7 ribu per kilogram. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Tengah mencatat, Nilai Tukar Petani (NTP) Jateng bulan September 2021 mengalami kenaikan sebesar 0,95 persen dibanding NTP bulan sebelumnya sebesar 100,00.

Kenaikan NTP disebabkan kenaikan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,91 persen, sebesar indeks harga yang dibayar petani (Ib) menurun 0,03 persen.

Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS Jateng, Arjuliwondo menuturkan,  beberapa subsektor mengalami kenaikan NTP di antaranya tanaman pangan sebesar 2,20 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 0,07 persen, dan subsektor perikanan sebesar 2,21 persen.

"Kelompok subsektor pertanian mengalami kenaikan, sehingga NTP gabungan 2021 mengalami kenaikan yaitu tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, dan perikanan.

Sementara untuk subsektor hortikultura dan peternakan mengalami penurunan NTP," kata dia saat rilis data melalui daring, Jumat (1/10/2021).

Arjuliwondo melanjutkan, pada September 2021 komoditas pertanian mengalami kenaikan harga antara lain jagung, gabah, kubis, cabai hijau, melon, cengkeh, dan bandeng payau.

Menurutnya, hal itu menyebabkan indeks yang diterima petani pada bulan September lebih tinggi dari Agustus.

Sementara hortikultura mengalami penurunan seperti bawang merah, kentang, dan tomat. Hal itu menyebabkan NTP hortikultura mengalami penurunan.

Adapun perkebunan rakyat ada kenaikan harga pada tembakau, cengkeh, dan kelapa sehingga meningkatkan indeks diterima petani.

"Untuk peternakan memang terjadi kendala baik di desa maupun kota yaitu penurunan harga telur ayam ras dan sapi potong, menyebabkan turunnya indeks yang diterima petani ternak," paparnya.

Ia menambahkan, secara umum NTP Jateng pada tahun 2021 tercatat lebih rendah dibandingkan NTP tahun 2020.

"Memang dibandingkan tahun 2020, NTP Jateng masih lebih rendah. Jadi belum ada satu bulan pun tahun 2021 ini yang NTP-nya di atas tahun 2020," tukasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved