Breaking News:

14 Perusahaan Besar Beraset di Atas Rp 250 Miliar Antre IPO

hingga 1 Oktober 2021 tercatat sebanyak 24 perusahaan yang mengantre untuk melakukan initial public offering (IPO) atau pencatatan saham perdana.

Editor: Vito
KONTAN/Carolus Agus Waluyo
Ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI), I Gede Nyoman Yetna mengungkapkan, hingga 1 Oktober 2021 tercatat sebanyak 24 perusahaan yang mengantre untuk melakukan initial public offering (IPO) atau pencatatan saham perdana.

Dari 24 perusahaan tersebut, terdapat 14 perusahaan dengan aset skala besar atau di atas Rp 250 miliar, dua perusahaan dengan aset skala kecil atau di bawah Rp 50 miliar, dan delapan perusahaan dengan aset skala menengah atau antara Rp 50 miliar hingga Rp 250 miliar.

Dua di antara 24 perusahaan yang berada dalam pipline bursa merupakan anak perusahaan BUMN.

“Sampai dengan 1 Oktober 2021 terdapat 24 perusahaan dalam pipeline saham BEI, 14 perusahaan di antaranya merupakan perusahaan aset skala besar atau di atas Rp 250 miliar,” katanya, kepada wartawan, Senin (4/10).

Merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017, klasifikasi dari 24 perusahaan yang berada dalam pipeline bursa yakni dua perusahaan masing-masing dari sektor basic matertrials dan industrial, satu perusahaan masing-masing dari sektor transportasi dan logistik, teknologi, finansial, properti, dan real estate, serta infrastruktur.

Selanjutnya, terdapat 3 perusahaan dari sektor energi yang berada dalam pipeline bursa, lima perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals, dan tujuh perusahaan dari sektor consumer cyclicals.

Sebelumnya, Menteri BUMN Erick Thohir menginginkan perusahaan-perusahaan pelat merah untuk melantai di pasar modal. Hal itu selaras dengan target untuk menempatkan bursa Indonesia menjadi pasar modal terbesar di Asia Tenggara.

Di saat pasar modal di sejumlah negara dunia melambat, bursa Indonesia justru mampu mencatat pertumbuhan positif. Sejak awal tahun, pasar modal Indonesia mengalami pertumbuhan 2,56 persen.

Erick optimistis, semakin banyaknya perusahaan BUMN go publik akan turut menopang kinerja BEI, dan akhirnya mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. (Kompas.com/Kiki Safitri)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved