Breaking News:

Guru Berkarya

Membangun Partisipasi Orang Tua Siswa di Sekolah

Partisipasi masyarakat dan orang tua tidak hanya dana tetapi dapat berupa partisipasi pemikiran, tenaga, keahlian atau keterampilan dan sosial.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Sukati SPdSD, Kepala SDN Kalidoro Kec/Kab Pati 

Oleh: Sukati SPdSD, Kepala SDN Kalidoro Kec/Kab Pati

SEKOLAH tempat menuntut ilmu. Di dalamnya terjadi proses belajar mengajar antar guru dan siswa.  Potensi siswa  dikembangkan sesuai minat dan bakatnya agar menjadi sumber daya manusia yang berkualitas.

Tak hanya materi pelajaran yang diberikan tetapi juga dididik agar menjadi manusia yang berkarakter .  Beberapa karakter yang dikembangkan antara lain religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

Keberadaan sekolah tidak dapat berdiri sendiri tanpa ada kerja sama dan dukungan dari berbagai pihak. Baik di dalam sekolah sendiri maupun di luar sekolah.

Di dalam sekolah yaitu antar siswa, guru, tenaga kependidikan maupun kepala sekolah. Sedangkan di luar sekolah meliputi kerja sama dan dukungan dari pemerintah, masyarakat, dan orang tua siswa.  

Kerja sama  dan dukungan dikenal sebagai partisipasi. Partisipasi dari masyarakat dan orang tua sangatlah diharapkan agar sekolah dapat maju karena program sekolah akan berjalan lancar sesuai rencana.  

Berdasarkan pendapat Engkosworo dan Aan Komariah (2010-297) bahwa jenis masyarakat yang dijalin sekolah untuk bekerjasama meliputi kelompok orang tua, kelompok asosiasi, kelompok praktisi, kelompok akademisi, kelompok pengusaha, dan tokoh masyarakat. Partisipasi masyarakat dan orang tua tidak hanya dana melainkan juga dapat berupa partisipasi pemikiran, tenaga, keahlian atau keterampilan dan sosial. Jadi kalau pemikiran kita selama ini partisipasi orang tua siswa hanya berupa dana itu adalah pemikiran yang salah

Seperti yang terjadi di SD Negeri Kalidoro Kecamatan Pati kabupaten Pati. Ketika mulai diberlakukan pembelajaran tatap muka terbatas (PTM) oleh pemerintah maka sekolah bersia-siap menata ruang kelas yang sudah lama tidak digunakan.

Kebetulan saat itu sekolah mendapat rehab lima ruang. Empat ruang kelas dan satu ruang perpustakaan yang masih jadi satu dengan ruang UKS. 

Permasalahan yang muncul adalah penataan ruang. Buku-buku perpustakaan, buku paket, dan buku-buku administrasi guru dikumpulkan jadi satu di ruang kelas yang tidak direhab.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved