Breaking News:

Guru Berkarya

Pahlawan Dalam Kata-Kata Mutiara

Penghargaan kepada para pahlawan tidak sekedar mengingatnya dengan mendirikan patung pahlawan, atau memberikan nama jalan dengan nama pahlawan.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Sustiningsih SPd, Guru SMPN 1 Watukumpul Kab Pemalang 

Oleh: Sustiningsih SPd, Guru SMPN 1 Watukumpul Kab Pemalang

PENGHARGAAN kepada pahlawan tidak sekadar mengingatnya dengan mendirikan patung atau memberikan nama jalan. Penghargaan itujuga dilakukan dengan belajar dari pemikiran, sikap, dan tindakan para pahlawan serta belajar dari sejarah mereka.

Sebagai upaya menanamkan nilai kepahlawanan dan kebangsaan dalam pembentukan karakter siswa, salah satunya memberikan mata pelajaran IPS kelas VIII materi “Tumbuh dan Berkembangnya Semangat Kebangsaan” dengan mengenalkan kata-kata mutiara pahlawan Indonesia kepada siswa di SMP Negeri 1 Watukumpul.

Satu, H. Agus Salim. Pada tahun 1898, Agus Salim menjadi juara umum HBS se-Hindia Belanda. Seorang inlander menjadi yang terbaik mengalahkan kaum kulit putih Belanda. Ia berkata, ”Bibit kebangsaan perlu ditanamkan kepada anak-anak di samping pelajaran lainnya. Anak-anak yang bersekolah di sini dipersiapkan untuk menjadi pemimpin yang akan menggantikan pemimpin yang tua.“

Agus Salim gemar membaca buku ilmu pengetahuan. Ia berpendapat pelajaran di sekolah saja tidak cukup. Kita harus belajar sendiri untuk menambah pengetahuan dan pengalaman. Sekolah bukan satu-satunya tempat pendidikan melainkan hanya salah satu tempat pendidikan. "Kalau sudah berhenti dari sekolah, pendidikan akan berjalan terus. Pendidikan berlangsung sepanjang masa, selama manusia hidup di atas dunia ini." (Sutrisno Kutojo dan Drs. Mardanas Safwan 1992:15-22).

Pembaharuan dalam ajaran agama Islam menarik perhatian H. Agus Salim. Ia berkata, “Islam bukanlah agama yang statis, tapi dinamis. Tidak beku, tetapi pelaksanaan dalam masyarakat harus disesuaikan dengan kemajuan zaman.”

H. Agus Salim menjadi penasihat dari organisasi pemuda Jong Islamieten Bond. Di depan pemuda-pemuda, ia berkat, “Pemuda-pemuda Islam harus memajukan pengetahuannya dan hidup secara agama. Kebangsaan hendaknya dijiwai cita-cita keagamaan.”

H. Agus Salim mempunyai sifat toleransi yang besar. Ia berpendapat, ”Toleransi berarti menghargai pendapat dan keyakinan orang lain. Tetapi kita tidak dapat mentolerir golongan-golongan yang akan menghancurkan Islam.”

H. Agus Salim seorang pemimpin besar yang selalu hidup sederhana, bahkan lama sekali berada dalam kemiskinan. Lima puluh tahun lebih hidupnya diserahkan untuk perjuangan bangsanya. Beliau tidak meninggalkan pusaka berupa kekayaan, uang dan barang tetapi meninggalkan harta yang tidak ternilai dalam bidang ilmu berupa buku dan buah pikiran (Sutrisno Kutojo dan Drs. Mardanas Safwan 2010:34-46).

Dua, Jenderal Soedirman. Sajak karyanya sewaktu memimpin perang gerilya “Robek-robeklah badanku, Potong-potonglah jasadku, Tetapi jiwaku yang dilindungi benteng Merah Putih, Akan tetap hidup, Menuntut bela siapa pun lawan yang kan dihadapi”.

Banyak prajurit yang siap mati untuk membela Ibu Pertiwi. Pada Januari 1948 Soedirman menulis, “Kamu bukanlah tentara sewaan, Tetapi prajurit yang berideologi sanggup berjuang, Menempuh maut untuk kelahiran Tanah Airmu, Percaya dan yakinlah, Bahwa kemerdekaan suatu negara, Didirikan di atas timbunan reruntuhan ribuan jiwa, Harta benda rakyat dan bangsanya, Tidak akan dapat dihapuskan oleh manusia siapa pun juga.” (Taufik Adi Susilo, 2013:10-11). Beliau memiliki dan berpegang teguh pada falsafat yaitu Setia Akidah, Setia Ibadah, Setia Ilmu, Setia Berkorban, dan Setia Perjuangan (Gerilya, 2007:2).

Para pahlawan telah memberikan contoh dan manfaat seperti mendapatkan informasi baru, semangat pejuang yang bisa membangun karakter generasi sekarang, jujur, rendah hati, kesederhanaan, rasa cinta tanah air bahkan menjadi panutan bagi generasi muda untuk membangun Negara Indonesia agar lebih maju lagi. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved