Breaking News:

Guru Berkarya

Peningkatan Hasil Belajar Sejarah Indonesia dengan Cooperative Learning

Pembelajaran sejarah Indonesia biasanya membahas mengenai tokoh-tokoh sejarawan, peristiwa sejarah, dan lain sebagainya.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Malikha SPd, Guru SMAN 1 Comal Kab Pemalang 

Oleh: Malikha SPd, Guru SMAN 1 Comal Kab Pemalang

PEMBELAJARAN sejarah di sekolah umumnya dianggap kurang menarik. Pembelajaran sejarah Indonesia biasanya membahas mengenai tokoh-tokoh sejarawan, peristiwa sejarah, dan lain sebagainya.

Salah satu materi Sejarah Indonesia pada siswa kelas XII membahas tetang sejarah bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa. Materi ini dijabarkan pada Kompetensi Dasar (KD) 3.1 Menganalisis upaya bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa antara lain: PKI Madiun, DI/TII, APRA, Andi Aziz, RMS, PRRI Permesta, G-30-S PKI.

Pembelajaran sejarah yang diajarkan di SMAN 1 Comal belum maksimal, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, penempatan pelajaran sejarah pada umumnya pada siang hari ketika kondisi belajar siswa menurun. Kedua, penyajian materi dalam buku-buku sejarah masih kurang memadai.

Ketiga, faktor model pembelajaran dan dukungan media pembelajaran yang kurang memadai. Banyak siswa yang tidak puas dengan mata pelajaran sejarah dan cara guru mengajar sejarah. Hal ini dikarenakan metode yang digunakan hanya metode ceramah, jarang menggunakan metode lain. Akibatnya, hasil belajar siswa relatif rendah dan tidak mencapai nilai ketuntasan minimal yang telah ditetapkan.

Berdasarkan data siswa kelas XII menunjukkan bahwa hasil belajar siswa 77,5% masih rendah dan di bawah KKM. Berarti mereka tidak serius dan fokus dengan baik dalam mengikuti pembelajaran. Kemudian sisanya sekitar 22,5% sudah memenuhi standar ketuntasan nilai minimal.

Untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam proses pembelajaran sejarah, perlu dilakukan upaya salah satunya melalui pemilihan beberapa metode yang sesuai. Salah satu metode pembelajaran yang dapat diterapkan yaitu menggunakan cooperative learning atau pembelajaran kelompok (Solihatin dan Raharjo, 2007:5).

Dalam menggunakan metode ini, guru terlebih dahulu menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa. Kemudian, guru menyajikan informasi seputar materi yang akan diajarkan. Selanjutnya membagi siswa ke dalam beberapa kelompok dan membimbing siswa untuk menyelesaikan tugas bersama mereka.

Langkah terakhir cooperative learning meliputi presentasi hasil akhir kerja kelompok atau evaluasi tentang apa yang telah mereka pelajari dan memberi penghargaan terhadap usaha-usaha kelompok. Dengan belajar dalam kelompok, siswa dapat termotivasi untuk belajar bersama atau dapat melatih mereka untuk berpikir dan memahami mata pelajaran agar tidak tertinggal oleh teman sebayanya. (Anita Lie, 2002:18).

Penggunaan metode cooperative learning dapat meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran sejarah. Pada kondisi awal sebelum diterapkan metode ini, 77,5% siswa tidak aktif dalam pembelajaran.

Aktivitas siswa menjadi meningkat ketika cooperative learning diterapkan. Hal ini terlihat dari peningkatan aktivitas yaitu 52,5% siswa dengan tingkat aktivitas tinggi dan 7,5% siswa dengan tingkat aktivitas sangat tinggi, sisanya pada tingkat sedang dan tidak sudah tidak terdapat siswa yang pasif saat pembelajaran menggunakan cooperative learning. Selain itu, dengan metode ini reaksi siswa sangat positif dan mereka lebih percaya diri dalam mengemukakan pendapat, mengerjakan tugas dan menjawab pertanyaan guru. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved