Breaking News:

OPINI

OPINI : Guru dan Resolusi Jihad Pendidikan

SETIAP tanggal 5 Oktober diperingati sebagai Hari Guru Sedunia (HGS) atau Word Teachers Day untuk merayakan jasa guru sedunia.

Banjarmasin Post/Istimewa
Ilustrasi guru mengajar di kelas. 

Oleh: Lilis Erfianti

Mahasiswa Pascasarjana Unnes

SETIAP tanggal 5 Oktober diperingati sebagai Hari Guru Sedunia (HGS) atau Word Teachers Day untuk merayakan jasa guru sedunia.

Melansir situs resmi UNESCO, Hari Guru Sedunia ini bertujuan memperingati ulang tahun penandatanganan Rekomendasi ILO/UNESCO 1966 tentang Status Guru yang menetapkan tolok ukur hak dan tanggung jawab guru, standar untuk persiapan awal dan pendidikan lebih lanjut, rekrutmen, pekerjaan, serta kondisi belajar-mengajar.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, Hari Guru Sedunia 2021 fokus pada dukungan yang dibutuhkan guru untuk berkontribusi penuh pada proses pemulihan peran guru akibat satu setengah tahun diterpa krisis Covid-19.

Hal itu kemudian mendasari tema HGS tahun ini dengan tema "Teachers at the heart of education recovery" atau "Guru di jantung pemulihan pendidikan”. Namun, tidak hanya itu pada momentum HGS ini hendaknya guru juga dapat melakukan resolusi jihad pendidikan, mengapa demikian?

Fenomena bom bunuh diri, kekerasan antar-kelompok kepercayaan dengan simbol agama terus mengancam kehidupan demokrasi di Indonesia. Lalu, pengangguran, dan degradasi kualitas kehidupan dan lingkungan, serta politik pencitraan menjadikan Indonesia tidak memiliki karakter kebangsaan yang jelas.

Semua itu, muncul karena adanya politik identitas yang bersemangat sektarian mengarah pada anti-pancasila, antidemokrasi, dan antipluralisme. Untuk memperbaiki itu semua, kita butuh guru dengan komitmen besar didukung masyarakat politik, masyarakat sipil, alim ulama untuk kembali pada nilai-nilai luhur Pancasila.

Dalam situasi dan kondisi kekinian yang menjadi titik sentral untuk menjawab tantangan zaman, tidak hanya restorasi nilai-nilai luhur Pancasila. Sementara itu, negara semestinya harus segera mengakhiri politik pembiaran terhadap kekerasan atas nama agama yang kerap terjadi.

Driyakarya (1965) menyebutkan bahwa semua itu harus dimulai dari ranah pendidikan, yang memiliki arti strategis resolusi jihad. Karena, banyak pembelajar yang menjadi tumpuan keberlanjutan pembangunan bangsa, apalagi kini generasi muda menjadi sasaran utama pembelokan ideologi dari luar.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved