Breaking News:

Guru Berkarya

Tingkatkan Keterampilan Menceritakan Dongeng dengan Bermain Peran

Titik fokus dalam pembelajaran menggunakan metode bermain peran adalah keterlibatan emosional dan pengamatan indera dalam situasi yang dihadapi.

Editor: abduh imanulhaq
TRIBUN JATENG
Nolowati SPd, Guru SDN 01 Bojongbata Kab Pemalang 

Oleh: Nolowati SPd, Guru SDN 01 Bojongbata Kab Pemalang

PEMBELAJARAN Bahasa Indonesia di sekolah dasar selain diarahkan untuk melengkapi aspek pengetahuan, juga sebagai upaya meningkatkan keterampilan berbahasa peserta didik. Empat aspek berbahasa yang harus dikuasai peserta didik yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Aspek berbicara bagi sebagian orang merupakan aspek yang menyenangkan karena dapat mengungkapkan ide, gagasan, pendapat, dan perasaan secara langsung. Namun ketika aspek tersebut diterapkan dalam pembelajaran, sebagian peserta didik masih merasa kesulitan, termasuk bagi peserta didik kelas 3 sekolah dasar.

Aspek berbicara pada kelas tiga di SD Negeri 01 Bojongbata diajarkan pada Tema 2 KD 4.8 Memeragakan pesan dalam dongeng sebagai bentuk ungkapan diri menggunakan kosa kata baku dan kalimat efektif. 

Peserta didik diharapkan mampu menceritakan kembali salah satu isi dongeng yang telah dibaca atau didengar. Pada praktiknya, seringkali peserta didik kurang konsentrasi, malu dan merasa panic ketika diminta bercerita. Sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut, guru memilih menggunakan metode pembelajaran dengan bermain peran.

Menurut Sanjaya (2006 : 161) metode pembelajaran bermain peran merupakan bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa-peristiwa aktual atau kejadian yang mungkin akan muncul pada masa mendatang.

Melalui metode bermain peran, peserta didik diharapkan mampu mengeksplorasi perasaan, mengungkapkan ide dan gagasan, serta  mengembangkan sikap dan keterampilan memecahkan permasalahan yang dihadapi.

Menurut Amri dan Ahmadi (2010: 194) dalam metode bermain peran, diawali dengan menghangatkan suasana dan memberikan motivasi kepada peserta didik, memilih peran, menyusun tahapan permainan, menyiapkan pengamat, tahap pemeranan, dan tahap diskusi.

Titik fokus dalam pembelajaran menggunakan metode bermain peran adalah keterlibatan emosional dan pengamatan indera dalam situasi yang dihadapi.

Tujuan dari penggunaan metode bermain peran dalam proses pembelajaran adalah sebagai upaya meningkatkan kemampuan dan keterampilan berbicara peserta didik.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved