Breaking News:

Berita Semarang

Ganjar Minta USAID Ikut Dampingi Penanganan Kemiskinan Ekstrem di Jateng

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengapresiasi program IUWASH PLUS dari USAID.

Penulis: m zaenal arifin | Editor: sujarwo
Dok. Humas Pemprov Jateng
Gubernur Ganjar Pranowo menerima USAID dlm rangka menyampaikan progres dan rencana penutupan USAID IUWASH Plus di Provinsi Jateng, Senin (11/10/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengapresiasi program Indonesia Urban Water Sanitation and Hygiene Penyehatan Lingkungan untuk Semua (IUWASH PLUS) dari Lembaga Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID).

Selama lima tahun ini, program itu telah berhasil mengubah perilaku hidup sehat masyarakat di daerah dampingan.

Gubernur Ganjar Pranowo menerima USAID dlm rangka menyampaikan progres dan rencana penutupan USAID IUWASH Plus di Provinsi Jateng, Senin (11/10/2021).
Gubernur Ganjar Pranowo menerima USAID dlm rangka menyampaikan progres dan rencana penutupan USAID IUWASH Plus di Provinsi Jateng, Senin (11/10/2021). (Dok. Humas Pemprov Jateng)

Setidaknya ada tujuh kabupaten/kota di Jawa Tengah yang menjadi dampingan USAID .

"Alhamdulillah beberapa daerah sudah mulai sadar bagaimana mereka buang air besar (BAB) di tempat yang benar, ada jambannya, ada septic tank-nya dan dikuras secara berkala," kata Ganjar, usai menerima perwakilan USAID di Rumah Dinas Puri Gedeh, sebagaimana dalam rilisnya, Senin (11/10/2021).

Ganjar menjelaskan, perilaku yang sudah mulai berubah tersebut contohnya ada di Kabupaten Wonosobo. Di sana dulu banyak warga yang BAB di empang atau di jamban yang dibuang ke sungai.

Padahal kalau sanitasi dibuang ke sungai akan menimbulkan banyak bakteri pembawa penyakit. Begitu juga jika dibuang di empang karena hasil Empang menjadi tidak higienis.

"Dulu itu yang selalu jadi pertanyaan orang karena mengubah perilakunya sulit. Ketika USAID IUWASH masuk, edukasi mulai dilakukan. Menariknya ada perubahan perilaku, mereka (masyarakat) sendiri sekarang jijik memakan ikan karena dikasih makan limbah BAB. Itu perilaku yang menurut saya berubah menjadi bagus," katanya.

Perubahan perilaku menjadi lebih baik juga dapat dilihat dari contoh kebutuhan air bersih. 

Misalnya di Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang yang dilakukan program konservasi seperti reboisasi dsn pembuatan banyak sumur resapan sehingga memunculkan sumber air baru.

"Masyarakat harus bisa mengakses air bersih, apakah itu Pamsimas atau PDAM. Konservasi dan reboisasi yang memunculkan sumber air baru juga perubahan perilaku yang bagus karena kebutuhan air menjadi bisa disuplai secara natural," ujarnya.

Adapun sanitasi dan kebutuhan air bersih sendiri juga masuk dalam indikator kemiskinan. Hal itu sebenarnya sejalan dengan program pemerintah untuk pengentasan kemiskinan.

Maka dari itu, katanya, meskipun masa kerja USAID IUWASH sudah selesai bulan November tahun ini, Ganjar berharap agar bisa diteruskan untuk ikut mendampingi penanganan kemiskinan ekstrem di lima kabupaten.

"Program IUWASH ini harapan saya bisa diteruskan. Tadi saya kasih tantangan untuk mendampingi penurunan kemiskinan ekstrem di lima kabupaten. Soal ini mereka mau bicarakan dulu karena program mereka sebenarnya sudah selesai," tambahnya.

"Tapi saya tawarkan agar terkait beberapa indikator terutama jamban dan air bersih, saya berharap, IUWASH ikut mendampingi lima kabupaten yang bisa kita jadikan contoh untuk penanganan kemiskinan ekstrem," pungkas Ganjar. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved