Berita Kudus

Syaroni Ingin Peserta Pelatihan Tata Busana Punya Keterampilan Dasar Membuat Pola

Pelatihan tata busana berlangsung di kantor RTMM Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Kudus.

Penulis: Rifqi Gozali | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Rifqi Gozali
Pelatihan tata busana di Kantor RTMM-SPSI Kudus, Senin (11/10/2021). Pelatihan yang diikuti oleh buruh pabrik rokok ini dibiayai dari alokasi anggaran DBHCHT. 

TRIBUNJATENG.COM, KUDUS – Pelatihan tata busana berlangsung di kantor Federasi Serikat Pekerja Rokok, Tembakau, Makanan, dan Minuman (RTMM) Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Kudus.

Pelatihan yang sudah berjalan selama sepuluh hari tersebut dibiayai dari Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau (DBHCHT).

Dalam pelatihan tersebut terdapat 16 peserta, sebagian besar merupakan buruh pabrik rokok. Mereka diajari teknik menjahit paling dasar.

Tidak hanya itu, mereka juga diajari untuk membuat pola busana di atas kain sebelum akhirnya dipotong dan dijahit.

“Ada beberapa materi, mulai dari membuat dasar pola rok dan menjahit. Pola blus wanita dan menjahit. Ketiga membuat hem. Keempat menjahit celana,” ujar instruktur tata busana, Syaroni, saat ditemui di Kantor RTMM-SPSI, Senin (11/10/2021).

Dia mengatakan, ketika peserta mampu menguasai teknik dasar yang dia ajarkan, dia yakin peserta bakal mampu membuat pola dan menjahit dengan teknik yang lebih rumit.

Saat ini pelatihan tata busana sudah berlangsung selama 10 hari. Rencananya akan berlangsung sampai 22 hari.

Dalam tempo selama itu, katanya, dia akan menyampaikan materi pokok dan yang paling dasar. Untuk itu, dia tidak ingin membebani peserta dengan praktik yang menyulitkan.

“Penting materi paling pokok dan dasarnya untuk pelatihan ini yang kami berikan,” kata dia.

Pelatihan tata busana berlangsung setiap hari kecuali Sabtu dan Minggu. Setiap pertemuan ada empat jam waktu yang harus dimanfaatkan Syaroni untuk menyampaikan materi pelatihan.

Waktu selama empat jam itu pula dimanfaatkannya untuk menyampaikan teori, kemudian peserta dituntut untuk praktik.

Selama peserta praktik membuat pola atau menjahit, saat itu kesempatan bagi Syaroni untuk mengawasi mereka.

Acap kali dia mengingatkan ketika ada peserta yang keliru atau kurang tepat saat praktik.

“Sebagian peserta ada yang telah memiliki dasar menjahit, jadi tinggal mengingatkan ulang terkait teori menjahit,” kata dia.

Setelah pelatihan tersebut purna, Syaroni tidak muluk-muluk dalam menargetkan capaian keterampilan peserta.

Ketika peserta sudah mampu membuat pola kemudian menjahitnya hingga menjadi busana, itu sudah merupakan kebanggan baginya sebagai instruktur.

“Setidaknya peserta sudah memiliki keterampilan menjahit dasar. Untuk praktik yang lebih rumit, peserta nanti bisa mengembangkannya sendiri,”  tandas dia. (*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved