Breaking News:

Berita Karanganyar

Apa Itu Tradisi Mondosiyo dan Dukutan, Diajukan Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Asal Karanganyar

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karanganyar mengusulkan tradisi Dukutan, Mondosiyo dan Batik Girilayu sebagai warisan budaya tak benda.

Penulis: Agus Iswadi | Editor: rival al manaf
Tribun Jateng/ Agus Iswadi
Warga berebut ayam saat acara Mondosiyo di Pancot Kelurahan Kalisoro Kecamatan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar sebelum adanya pandemi Covid-19. 

"Mondosiyo dan Dukutan dilanjutkan ke tahap sidang penetapan tapi Batik Girilayu masih ada catatan."

"Diharapkan kekurangan disampaikan waktu sidang penetapan," katanya kepada tribunjateng.com, Selasa (12/10/2021).

Dia menjelaskan, sejarah mengenai Mangkunegaran menjadi catatan dari juri terkait Batik Girilayu.

Sehingga nantinya diharapkan muatan mengenai batik itu sendiri lebih ditonjolkan saat sidang penetapan warisan budaya tak benda.

Hastuti sapaan akrabnya menambahkan, tiga warisan budaya tak benda itu diusulkan karena muatan tradisinya yang unik.

Di sisi lain hingga saat ini masyarakat masih menggelar tradisi tersebut turun temurun terutama Mondosiyo dan Dukutan.

"Sidang penetapan jurinya tingkat nasional. Yang sudah lolos tahap ini belum tentu ditetapkan (menjadi warisan budaya tak benda). Tapi rata-rata ditetapkan," terangnya.

Baca juga: UIN Walisongo Gelar Kuliah Tatap Muka, Mahasiswa Bidikmisi Fuhum Jadi Relawan Covid

Baca juga: Profil Yayan Ruhian Mad Dog The Raid, Sukses Bintang Film Hollywood Star Wars Hingga John Wick

Baca juga: Cara Dapat Cuan dari Neo+ Aplikasi Penghasil Uang Terdaftar dan Diawasi OJK

Menurutnya dengan ditetapkannya tiga warisan budaya tak benda tersebut akan berdampak terhadap masyarakat sekitar dan menjadi daya tarik wisata.

Menggerakkan sektor ekonomi dan merawat dan melestarikan tradisi.

"Jadi dampaknya luas bagi masyarakat," jelasnya.

Hingga saat ini baru ada satu warisan budaya tak benda di wilayah Kabupaten Karanganyar yang diakui secara nasional yakni Wahyu Kliyu.

Tradisi sebar apem itu digelar oleh warga Desa/Kecamatan Jatipuro. (Ais).

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved