Breaking News:

OPINI

OPINI : Jagung Melambung Siapa Untung?

AWAL tahun 2021, pemerintah mengklaim bahwa produksi jagung akan melimpah. Selain cukup untuk konsumsi dalam negeri, jagung juga akan diekspor

Tribun Jateng/Indra Dwi Purnomo
ilustrasi panen jagung 

Oleh Anton Prasetyo, MSos
Guru di Madrasah Diniyah di Gunungkidul

AWAL tahun 2021, pemerintah mengklaim bahwa produksi jagung akan melimpah. Selain cukup untuk konsumsi dalam negeri, jagung juga akan diekspor pada tahun ini.

Dasar yang digunakan adalah prognosa penghitungan Pusat Data dan Sistem Informasi (Pusdatin) Kementan yang menyatakan bahwa produksi jagung nasional dengan kadar air 15 persen pada Januari-Desember 2020 mencapai 24,95 juta ton pipil kering.

Luas tanam jagung nasional periode Oktober 2019 - September 2020 mencapai 5,5 juta hektar. Sementara, panen jagung nasional Januari - Desember 2020 mencapai 5,16 juta hektar.

Prediksi pemerintah akan surplus jagung untuk ekspor ternyata meleset. Di pertengahan tahun ini, kita dihadapkan pada fenomena peternak unggas sekarat karena kelangkaan jagung. Saking langkanya, harga jagung yang biasanya Rp 4 ribu hingga Rp 4,5 ribu, kini mencapai harga Rp 6 ribu perkilogram. Kondisi akut ini bahkan menjadikan Presiden Jokowi harus turun tangan langsung.

Setelah mendengarkan keluh kesah perwakilan para peternak di Istana Merdeka, Jokowi langsung memerintahkan para menteri terkait untuk segera menyelesaikan permasalahan ini.

Langkah sigap pemerintah ini mendapat apresiasi positif dari seluruh peternak unggas se-Nusantara. Mereka riang-ceria mendapatkan angin segar ini.

Mereka juga berharap lagi agar pemerintah juga turut-serta dalam pemasaran hasil produk ternak unggas dalam program pemerintah, misal telur dan daging ayam dimasukkan dalam bansos dari pemerintah. Langkah ini dinilai akan dapat mendongkrak eksistensi peternak rumahan yang harus berhadapan dengan peternak raksasa.

Analisis kasar, sejatinya para peternak unggas rumahan tidak serta merta bisa eksis manakala harga jagung bisa turun hingga Rp 4 ribu sampai Rp 4,5 ribu. Mereka masih memiliki masalah besar, yakni berhadapan dengan peternak raksasa. Karena, harga pakan ternak murah yang paling merasakan enaknya sejatinya bukan para peternak rumahan, namun justru para peternak raksasa.

Dengan harga pakan ternak rendah, mereka akan dengan mudah menjual hasil produk dengan harga yang sangat rendah. Dengan harga yang cukup rendah, mereka akan tetap eksis karena dengan SDM dan mesin yang mumpuni, mereka akan dapat dengan mudah menekan biaya operasional.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved