Breaking News:

Potensi Ekonomi Digital Sangat Tinggi: Utamakan Produk Lokal

perkembangan ekonomi digital dinilai harus dipastikan dapat mendukung ekonomi masyarakat.

Editor: Vito
Belanja online/ilustrasi 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Rencana pemerintah membuat cetak biru ekonomi digital Indonesia disambut baik. Potensi ekonomi digital Indonesia dinilai akan terus tumbuh dan menjadi yang terbesar di Asia Tenggara.

Meski begitu, perkembangan ekonomi digital harus dipastikan dapat mendukung ekonomi masyarakat.

"Menjadikan ekonomi digital sebagai ekonomi kerakyatan. Produk lokal harus didorong dan diutamakan," ujar Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute, Heru Sutadi, saat dihubungi Kontan.co.id, Selasa (12/10).

Guna mencapai hal tersebut, menurut dia, diperlukan transformasi digital di seluruh bidang. Selain itu juga diperlukan kesiapan sumber daya manusia (SDM) dalam memanfaatkan teknologi.

Heru menyebut, pemerintah juga perlu serius membangun infrastruktur broadband. Jaringan tersebut harus terbangun hingga menyentuh daerah terpencil di setiap desa di Indonesia. "Desa yang belum mendapat broadband perlu dipercepat," ucapnya.

Dia menambahkan, keaktifan pemerintah dalam membangun dan membina industri rintisan atau start up perlu terus dilakukan. Sehingga nantinya dapat muncul start up yang menjadi unicorn dan decacorn.

Heru berujar, nilai ekonomi digital Indonesia dapat mencapai 200 miliar dollar AS pada 2025. Angka tersebut sekaligus akan menempatkan Indonesia sebagai negara terbesar ketiga dalam ekonomi digital di dunia.

Adapun, Menteri Perdagangan (Mendag), Muhammad Lutfi mengatakan, transformasi dan akselerasi digital ekonomi Indonesia adalah prioritas pemerintah saat ini.

Menurut dia, satu sumber utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di masa depan akan berasal dari ekonomi digital.

"Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan di dunia yang akan datang adalah ekonomi digital. Hal ini tentu tidak hanya sebatas e-commerce saja, tapi mencakup kegiatan ekonomi yang lebih luas, seperti financial, travel, health, dan lain-lain," ujarnya, dalam diskusi webinar 'Gambir Talks', secara virtual, Selasa (12/10).

Ia menyebut, populasi besar menjadi satu kekuatan utama Indonesia pada sektor ekonomi digital, lantaran memiliki jumlah pengguna internet yang mencapai 197 juta orang. Bahkan, angka itu juga diproyeksikan akan bertambah menjadi 250 juta orang pada 2050.

"Selain itu diukur juga dari Gross Merchandise Value (GMV), potensi ekonomi digital Indonesia sangat besar dan jauh melebihi negara lain di kawasan ASEAN," ungkapnya.

Selain itu, Lutfi menilai, sektor e-commerce diperkirakan masih akan menguasai peta ekonomi digital Indonesia. Mendag menyebut, e-commerce pada 2030 diperkirakan memberikan kontribusi hingga Rp 1.908 triliun, atau sekitar 33-34 persen dari total ekonomi digital.

"Sementara kontribusi besar lainnya akan bersumber dari skema Business to Business (B2B), termasuk supply chain dan logistik sebesar Rp 763 triliun, atau 13 persen. Online travel sebesar Rp 575 triliun atau 10 persen, corporate services Rp 529 triliun atau setara 9 persen. Transformasi dan akselerasi digital ekonomi Indonesia adalah prioritas pemerintah saat ini," tandasnya. (Kontan.co.id/Abdul Basith Bardan/Kompas.com/Elsa Catriana)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved