Breaking News:

Berita Semarang

Biaya Umrah Dipredisksi Naik Hampir 40 Persen Dibanding Sebelum Pandemi

Biaya ibadah umrah diprediksi naik hampir 40 persen dibanding sebelumnya.

Penulis: budi susanto | Editor: sujarwo
Dokumentasi Biro Umrah Mutiara Azra Tour dan Travel Kota Tegal
Ilustrasi. Suasana manasik umrah di Biro Umrah Mutiara Azra Tour dan Travel Kota Tegal. Gambar diambil sebelum pandemi Covid-19. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Biaya ibadah umrah diprediksi naik hampir 40 persen dibanding sebelumnya.

Prediksi naiknya biaya tersebut jika regulasi mengenai regulasi keamanan dan kesehatan di masa pandemi di berlakukan.

Jika sebelumnya paket umrah termurah mencapai Rp 22 juta lebih, untuk masa pandemi membengkak mencapai Rp 37 juta.

Untuk itu sejumlah biro umrah tengah menunggu kejelasan regulasi umrah yang sampai saat ini belum jelas arahnya.

Menurut Bambang Riyanto, Owner Biro Umroh Saibah, kepastian pembukaan umrah dalam bentuk regulasi di tengah pandemi sangat dinanti-nanti.

“Apakah nantinya satu kamar di Arab Saudi hanya diisi dua jamaah, atau kapasitas bus boleh penuh atau separuh, serta diwajibkan karantina bagi jamaah umrah, hingga vaksin booster. Karena regulasi itu berpengaruh terhadap biaya umrah,” terangnya, Rabu (13/10/2021).

Dilanjutkannya, ada informasi untuk berangkat jamaah umrah tiga hari, dan pulang delapan hari, yang akan berdampak pada biaya umrah.

“Jika biaya tambahan tersebut ditanggung pemerintah tidak apa-apa, karena paling murah biaya umrah Rp 22 juta, jika diberlakukan regulasi tambahan kami memprediksi biaya membengkak sampai Rp 37 juta,” katanya.

Ia menjelaskan adanya informasi akan dibuka umrah untuk jamaah Indonesia membuatnya bersyukur.

“Namun sampai sekarang Arab Saudi belum memberikan informasi secara resmi. Dan dari pihak provider visa juga belum memberikan keterangan resmi saat kami tanya,” ujarnya.

Bambang menuturkan, walaupun ada informasi pembukaan umrah, namun jika tidak ada pembukaan visa umrah dan penerbangan ke Arab Saudi, berati hanya pemerintah hanya memberi harapan palsu.

“Entah itu politik atau apa, yang jelas jika umrah dibuka jangan sampai membebani masyarakat, di tempat kami saja yang tertunda keberangkatan ada 200 orang. Jika mereka dibebani biaya tambahan pastinya akan keberatan, apalagi jika sudah dilakukan pemeriksaan di daerah asal dan dinyatakan negatif Covid-19, namun saat dikarantina positif, siapa yang bertanggung jawab terhadap jadwal keberangkatan penerbangan pesawat dan hotel untuk jamaah umrah,” imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved