Breaking News:

Berita Jateng

Peredaran Garam di Jateng 30 Persen Belum Beryodium

Yayasan Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jawa Tengah bekerjasama dengan Nutrition Internasional, menyelenggarakan pelatihan

Penulis: faisal affan | Editor: Catur waskito Edy
faisal affan
Seorang narasumber memberikan materi pelatihan pengawasan garam beyodium kepada peserta lembaga perlindungan konsumen seluruh Indonesia di hotel Grasia Semarang, Rabu (14/10/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG  - Yayasan Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Jawa Tengah bekerjasama dengan Nutrition Internasional, menyelenggarakan pelatihan bagi lembaga perlindungan konsumen di tiap kabupaten/kota se-Indonesia, Rabu (13/10/2021).

Pelatihan yang diadakan di Hotel Grasia Semarang ini, menghadirkan para peserta yang datang dari daerah-daerah penghasil garam terbesar. Tidak hanya dari pulau Jawa saja, Namun hingga Sulawesi dan Sumatera juga.

Ketua LP2K Jawa Tengah, Abdun Mufid, mengatakan pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat pemantauan dan penegakan hukum dalam program konsumsi garam beryodium. Pada dasarnya, garam yang beredar di pasaran untuk konsumsi harus memiliki kadar yodium sebesar 30 ppm.

"Di bawah 30 ppm jelas melanggar standar yang sudah diatur. Peserta yang hadir ini nantinya akan membuat penelitian terhadap produsen garam yang ada di tiap-tiap daerah. Baik diproduksi skala rumahan maupun industri," terangnya.

Ia melanjutkan, hasil dari penelitian itu nantinya akan disodorkan kepada pemangku kebijakan termasuk kepala daerah, guna mengurangi produsen yang tidak sesuai standar.

"Di Jawa Tengah, produsen garam terbesar ada di Kabupaten Pati. Tapi sayangnya di sana masih ditemukan IKM (Industri Kecil Menengah) yang belum memproduksi garam beryodium," tambahnya.

IKM yang tidak memenuhi standar produksi garam beryodium beralasan, karena biaya produksi garam tersebut cukup mahal.

"Dari riset yang pernah kami lakukan pada tahun 2010 menunjukkan bahwa garam yang beredar pada saat itu di Jawa Tengah 70 persen belum beryodium. Tapi saat ini sudah terbalik, hanya 30 persen saja garam yang belum beryodium," tuturnya.

Setiap hari manusia membutuhkan garam beryodium antara 120 - 150 mikrogram yodium. Sebenarnya bisa disuplai dari mana saja. Namun yang paling banyak masih dari garam.

"Kekurangan garam beryodium akan membuat IQ manusia turun. Itu efek yang paling ringan. Efek yang paling berat bisa menyebabkan keguguran pada ibu hamil," jelasnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved