Breaking News:

Guru Berkarya

Membaca, Permulaan Awal Fondasi Literasi

Membaca merupakan aktivitas kognitif melalui rangsangan yang berupa huruf dan tanda-tanda baca lainnya yang diterima oleh indera

Editor: abduh imanulhaq
IST
Sri Wahyuni SPdSD, Guru SDN Baturejo 02 Kec Sukolilo Kab Pati 

Oleh: Sri Wahyuni SPdSD, Guru SDN Baturejo 02 Kec Sukolilo Kab Pati

MEMBACA merupakan aktivitas kognitif melalui rangsangan yang berupa huruf dan tanda-tanda baca lainnya yang diterima oleh indera reseptor visual (mata) untuk kemudian dilanjutkan ke otak dan selanjutnya diberikan tafsiran atau makna. Nurhadi (2016:2) menjelaskan membaca adalah proses pengolahan bacaan secara kritis-kreatif yang dilakukan pembaca untuk memperoleh pemahaman menyeluruh tentang bacaan itu, yang diikuti oleh penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu.

Kemampuan membaca permulaan sering disebut dengan membaca lugas atau membaca dalam tingkat awal. Kegiatan pada tingkat ini belum mencapai pemahaman kompleks.

Materi yang disajikan pada membaca permulaan masih sangat sederhana, terdiri dari suku kata dan belum pada membaca kalimat. Kemampuan pada tahap ini merupakan tahap yang mengubah manusia dari tidak mampu menjadi mampu atau dapat membaca.

Siswa dibimbing untuk mampu membedakan bentuk huruf, mengenali suatu gambar dan huruf, suku kata dan kata yang merangkain nama dari gambar tersebut. Membaca permulaan diterapkan pada kelas rendah, terutama pada kelas 1.

Pada materi membaca dengan mengamati gambar, metode membaca permulaan dapat diterapkan. Dengan mengamati gambar siswa belajar menyebutkan apa saja yang mereka temukan dalam gambar.

Guru dapat menstimulasi kemampuan membaca siswa dengan menunjukkan kartu kata yang sesuai dengan gambar. Misalnya dalam gambar ditemukan gambar pohon, guru menunjukkan penulisan katanya, lalu anak belajar cara pengucapan suku katanya.

Metode SAS juga dapat diterapkan dalam membaca permulaan. Metode ini dimulai dengan membaca kata lalu diturunkan ke dalam suku kata dan diakhiri dengan mengenal huruf-huruf yang menyusun kata-kata tersebut.

Metode SAS tidak memaksa siswa untuk mengenal huruf terlebih dahulu. Metode ini diadopsi dari bagaimana seorang anak belajar berbicara.

Anak langsung belajar menirukan kata bukan mengenal huruf atau suku kata. Bagaimana seorang anak menirukan bunyi bahasa meskipun terkadang belum jelas pelafalannya.

Halaman
12
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved