Rabu, 6 Mei 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

berita video

Video Lestarikan Budaya Jawa, Anak-anak Semarang Rajin Belajar Gamelan

Balai pertemuan di RW 01 Keluarahan Kalipancur, Semarang dipadati anak-anak.

Tayang:
Penulis: budi susanto | Editor: abduh imanulhaq

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG -  Berikut berita video lestarikan budaya Jawa, anak-anak Semarang rajin belajar gamelan.

Balai pertemuan di RW 01 Keluarahan Kalipancur dipadati anak-anak.

Di sana, para bocah yang mayoritas berusia di bawah 10 tahun diajari memainkan gamelan dua kali dalam satu bulan.

Saat memainkan alat musik tradisional itu, tangan-tangan mungil para bocah meliuk-liuk.

Meski belum lama belajar, namun seolah mereka sudah mahir dalam mengombinasikan nada dari sejumlah alat musik jenis pukul tersebut.

Satu, dua, tiga, melalui instruksi sang pelatih, musik pun bergema memenuhi gedung pertemuan yang tak begitu besar tersebut.

Walaupun kurang senada dalam hal tempo musik, tapi anak-anak tetap berusaha menyeiramakan ketukan.

Grub gamelan yang berlatih di gedung pertemuan itu, merupakan satu di antara grub gamelan anak-anak yang tersisa di Kota Semarang.

Dengan jargon “Nguri-nguri Budaya Jawa” tradisi tersebut tetap eksis di tengah masifnya penggunaan gadget di kalangan anak-anak.

Gamelan yang digunakan dalam latihan merupakan alat milik warga RW 01 yang sudah ada sejak lama.

Didik Sutardi Pembina grub gamelan menjelaskan, latihan di balai pertemuan RW 01 baru dilakukan 2020 lalu.

“Kami juga baru merintis grub ini dengan nama Laras Budaya Bumi Pertiwi pada 14 Maret 2021,” jelas Didik yang juga pengajar kelas VI di SD Islam Siti Sulaechah 01 Semarang itu, Minggu (17/10/2021) sore.

Dalam latihan, anak-anak yang tergabung di grub gamelan Laras Budaya Bumi Pertiwi nampak semangat.

Latihan memainkan gamelan tersebut digelar dari pukul 16.00 WIB hingga menjelang ibadah Shalat Magrib.

“Latihan bersama anak-anak saya rintis karena keprihatinan akan budaya Jawa khusunya karawitan,” papar Didik.

Dilanjutkannya, budaya Jawa mulai tergerus di kalangan anak-anak yang seharusnya bisa belajar dan meneruskan warisan nenek moyang tersebut.

“Apalagi masifnya penggunaan gadget, anak-anak semakin tak mau belajar dan meneruskan budaya Jawa,” paparnya.

Bahkan Didik mengatakan penggunaan gadget membuat muridnya terkena rabun mata, lantaran saat pembelajaran tatap muka dibuka, beberapa siswa yang ia ampu tak bisa melihat secara jelas tulisan di papan tulis.

“Memang hal itu satu di antara dampak buruk gadget, beberapa anak didik saya tidak bisa melihat tulisan di papan tulis secara jelas, mereka mengaku sakit mata dan buram melihat tulisan,” ucapnya.

Ia menambahkan, budaya Jawa perlu diteruskan, dan jangan sampai hilang tergerus budaya lain maupun teknologi.

“Untuk itu di sini kami ingin membangkitkan kembali budaya Jawa dengan mengajarkan ke anak-anak, meski banyak tantangannya. Misalnya beberapa orangtua tidak mendukung ataupun semangat anak-anak yang kadang redup,” imbuhnya.

Adapun Inam (6) satu di antara anak-anak yang mengikuti latihan karawitan mengatakan senang bisa bermain musik gamelan bersama teman-temannya.

“Banyak teman di sini jadi senang, kami bermain musik bersama-sama. Kalau ada latihan lagi saya akan ke sini lagi,” tambahnya.(*)

TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE:

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved