Breaking News:

Fokus

Fokus : Cantrik, Sashtri, Santri

TERHITUNG sejak Presiden Joko Widodo meneken Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasiona

Penulis: achiar m permana | Editor: Catur waskito Edy
tribunjateng/bram
Achiar Permana wartawan tribun jateng 

Oleh Achiar M Permana

TERHITUNG sejak Presiden Joko Widodo meneken Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional, kita telah tujuh kali merayakan Hari Santri. Jokowi menandatangani Keppres itu pada 15 Oktober 2015, pada akhir tahun pertama periode pertama pemerintahannya.

Penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional itu terkait dengan peranan para santri dalam melawan Belanda saat agresi militer kedua. Momen itu merujuk pada deklarasi Resolusi Jihad oleh Hadratusy Syekh KH Hasyim Asy'ari, pada 22 Oktober 1945. Resolusi jihad itu mewajibkan seluruh umat Islam melawan penjajah.

Yang menarik, seiring pencanangan Hari Santri Nasional, banyak orang kembali mengulik tentang apa dan siapa santri. Ada sejumlah pandangan mengenai asal usul istilah santri. Salah satu yang populer, santri berasal dari bahasa Jawa: cantrik. Cantrik adalah seseorang yang berguru dan berbakti kepada seorang tokoh agama, pertapa atau orang sakti. Seorang cantrik tidak hanya berguru, tetapi juga tinggal berdekatan dengan gurunya, melihat langsung bagaimana guru menjalani kehidupan, belajar dari praktik sehari-hari.

Cendekiawan Islam, Nurcholis Madjid, salah satu yang mengamini pendapat tersebut. Dalam buku Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (1999), Cak Nur menuliskan, kata ‘santri; bisa pula berasal dari bahasa Jawa, yakni cantrik yang bermakna ‘orang atau murid yang selalu mengikuti gurunya’.

Selain cantrik, ada pendapat lain yang juga terbilang kuat dan banyak jemaahnya. Santri diduga berasal dari bahasa Sanskerta, “shastri”, yang berarti "orang yang mempelajari kitab-kitab suci agama Hindu". Pendapat ini terlontar dari CC Berg, pengarang buku Penulisan Sejarah Jawa (1974). Karel A Steenbrink, seperti dikutip oleh Zamakhsyari Dhofir dalam buku Tradisi Pesantren (1985), mendukung konsep Berg dan meyakini bahwa pendidikan pesantren di Jawa mirip dengan pendidikan ala Hindu di India, jika dilihat dari segi bentuk dan sistemnya.

Lalu, apakah dengan demikian, santri hanya sebutan yang tertuju pada mereka yang pernah mondok atau menimba ilmu di pondok pesantren?

“La kalau dhapuran seperti Sampean kira-kira santri bukan, Kang? Apa santri mung pacakan?” tiba-tiba Dawir, sedulur batin saya, nyeletuk dari balik tengkuk.

Mantan Rais Am PBNU yang kini menjadi Wakil Presiden, KH Ma’ruf Amin menegaskan, sebutan santri bukan hanya diperuntukkan bagi orang yang berada di pondok pesantren dan bisa mengaji kitab. Namun, santri adalah orang-orang yang meneladani para kiai.

Dalam versi yang lebih ringkas, ulama kharismatik cum budayawan asal Rembang, KH Mustofa Bisri atau Gus Mus menyatakan, “Santri bukan yang mondok saja, tapi siapa pun yang berakhlak seperti santri, adalah santri.”

Lalu, apa akhlak santri itu? Lebih detail, Gus Mus menyampaikan, santri adalah murid kiai yang dididik dengan kasih sayang untuk menjadi mukmin yang kuat. Santri juga kelompok yang mencintai negaranya, sekaligus menghormati guru dan orang tuanya, yang mencintai tanah airnya dan menghargai tradisi-budayanya. Seorang santri, lanjut Gus Mus adalah kelompok orang yang memiliki kasih sayang pada sesama manusia dan pandai bersyukur.

“Persis Sampean ya, Kang!” Saya merasa, Dawir berbisik lagi. (*)

Baca juga: Pria Rusia Kritis Setelah Bunuh Beruang yang Tewaskan Temannya

Baca juga: Video Kecelakaan Tol Semarang, Truk Kontainer Tak Kuat Nanjak Hantam 3 Mobil Satu Pikap

Baca juga: Wali Kota Semarang Minta Wisudawan Untag Tetap Eksis dan Mampu Kembangkan Diri

Baca juga: Polisi Beristri Hamili Wanita Lain di Trenggalek, Propam Bertindak

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved