Breaking News:

Berita Nasional

Indonesia Nomor 1 di Dunia soal Penyiksaan Hewan

Digital Civility Index (DCI) Microsoft 2020, dalam laporan terbaru, menempatkan Indonesia di peringkat pertama sebagai penyiksa hewan.

UNSPLASH/ELVIRA VISSER
Ilustrasi kucing (UNSPLASH/ELVIRA VISSER) 

"Penyiksaan hewan saya sebut hal sepele, bukan berarti saya menyepelekan, tetapi itu adalah kasus kecil dari praktik hidup manusia Indonesia yang bengis. Potret besarnya sesungguhnya ditopang oleh paradigma antroposentrisme yang kuat," jelas Widyanta.

Widyanta mengungkapkan dalam pandangan ecofeminisme, ada cara-cara hidup patriarki, yang tidak melulu soal hubungan perempuan dan laki-laki, tetapi juga pada hewan.
 

Menilik lebih dalam tentang penyiksaan hewan di Indonesia dalam gambaran piramida es, ada masalah yang jauh lebih besar.

Semua itu ditopang oleh paradigma antroposentrisme, pendidikan dan cara hidup manusia.

Lantas, mengapa penyiksaan hewan sering dilakukan manusia?

Lebih lanjut Widyanta mengatakan bahwa manusia adalah penganut hukum rimba.

Sejak kecil, telah ditanamkan pendidikan tentang rantai makanan, yang mana manusia merupakan bagian dari rantai makanan tersebut.

Secara antroposentris, cara pandang kita sejak kecil telah ditanamkan bahwa manusia adalah predator.

"Ketika kita melihat secara antroposentris seperti itu, dan dianggap sebagai hukum alam, sebetulnya kita sedang menghancurkan diri sendiri, karena kita membunuh hewan, tumbuhan yang merupakan naungan hidup kita," kata Dosen Departemen Sosiologi FISIP UGM ini.

Hak asasi hewan atau animal right hanya sebuah pintu masuk untuk bicara tentang ekosida, yang mana ekosida itu sesungguhnya yang akan membuat manusia punah.

Halaman
1234
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved