Opini

OPINI Riza Maulana : Mengapa Proses Penemuan Obat Covid-19 Lama?

VAKSIN Covid-19 telah ditemukan dan telah digunakan secara luas untuk membantu proses pembentukan imunitas tubuh terhadap virus SARS-Cov-2

BBC
Ilustrasi virus corona yang telah menginfeksi sejumlah siswa Setukpa di Sukabumi 

Oleh Apt. Riza Maulana, S.Farm., M.Pharm.Sci

Peneliti di Unimus

VAKSIN Covid-19 telah ditemukan dan telah digunakan secara luas untuk membantu proses pembentukan imunitas tubuh terhadap virus SARS-Cov-2, penyebab Covid-19. Pemerintah telah menyerukan program percepatan vaksinasi demi terbentuknya suatu herd immunity atau kekebalan populasi, tidak hanya di Indonesia tetapi di negara-negara lain di seluruh dunia.

Memang, saat ini vaksin Covid-19 sudah ditemukan sebagai salah satu upaya untuk melawan virus Covid-19. Vaksin dapat memberikan kekebalan tubuh yang lebih memadai agar lebih siap terhadap paparan virus Covid-19. Namun di samping vaksin, penemuan obat Covid-19 tetap menjadi suatu hal yang krusial dan urgen juga, terutama dalam langkah kuratif penanganan penyakit. Pertanyaannya, mengapa proses penemuan obat Covid-19 membutuhkan waktu lama?

Memang penemuan obat baru, butuh waktu lama. Banyak proses yang harus dilalui sebelum akhirnya obat tersebut aman dan layak dikonsumsi oleh manusia. Secara umum, obat harus memiliki 3 kriteria utama. Efficacy, safety, dan quality.

Efficacy dinilai dari kemampuan obat memberikan efek terapi yang diharapkan untuk memperbaiki kondisi pasien. Safety memiliki arti bahwa obat harus aman dan nyaman ketika dikonsumsi pasien. Quality menilai kualitas obat yang harus terjamin sehingga layak dikonsumsi oleh pasien.

Kita semua tentunya menginginkan suatu obat baru yang bisa mengatasi virus SARS-Cov-2, dan di sisi lain harus aman juga terhadap inangnya yaitu manusia. Karena kalau efektif saja dengan mengabaikan keamanannya bisa jadi akan menimbulkan efek yang tidak diharapkan.

Tidak hanya akan membunuh virusnya, namun bisa jadi akan mengakibatkan hal yang fatal bagi penggunanya. Oleh karena itu dalam proses penemuan obat, ada tahapan-tahapan yang harus dilakukan dan dikendalikan.

Tahapan

Tahapan dimulai dari pencarian dan penemuan senyawa yang memiliki potensi untuk menjadi obat baru sesuai tujuan penggunaannya. Hal ini dilakukan dengan melakukan skrining terhadap ribuan senyawa, memilah dan memilih mana yang memiliki potensi aksi paling baik. Kemudian dilakukan pembuatan senyawa tersebut di laboratorium.

Masuk ke tahap uji pra-klinis, meliputi pengujian menggunakan peralatan laboratorium (in vitro), yang jika hasilnya sesuai dengan harapan, maka dilanjutkan pengujian menggunakan hewan percobaan (in vivo) sesuai protokol etik dan standar laboratorium yang memadai.

Kemudian tahap uji klinis perlu dilakukan untuk pengujian khasiat calon obat baru pada manusia, meliputi keamanan, efektivitas, dan gambaran efek samping yang mungkin muncul. Tahap berikutnya adalah proses registrasi obat ke regulator, jika di Indonesia ada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Terakhir, monitoring keamanan obat ketika sudah beredar di pasaran untuk memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai keamanan dalam penggunaan obat tersebut. Seluruh proses ini normalnya membutuhkan waktu hingga lebih dari 10 tahun dan saat ini penelitian-penelitian penemuan obat Covid-19 terus berproses di banyak negara di dunia.

Lalu, apakah kita harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan obat tersebut untuk Covid-19? Bagaimana langkah penanganan saat ini yang sangat mendesak? Jika kita menunggu bertahun-tahun, tentunya itu akan sangat lama dan akan sangat terlambat untuk membantu memperbaiki kondisi saat ini. Kita tahu bahwa Covid-19 ini tidak hanya berdampak langsung pada aspek kesehatan saja tetapi dampaknya meluas dan secara signifikan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan dan gaya hidup manusia saat ini. Perlu suatu strategi penanganan yang cepat dan tepat untuk mencegah kejadian yang lebih buruk.

Drug Repurposing

Saat ini, penanganan Covid-19 memanfaatkan obat-obat yang sudah ada sebelumnya untuk mengurangi gejala dan keparahan penyakit. Drug repurposingmenjelaskan penggunaan obat di luar indikasi yang tertera dalam label (off-label) dan belum atau di luar persetujuan oleh badan atau lembaga yang berwenang yaitu BPOM atau FDA (Food and Drug Administration), jika di Amerika Serikat. Tujuan drug repurposing adalah relokasi yang cepat dari obat yang aman dan sudah disetujui sebelumnya, tanpa melewati tahap pencarian senyawa yang panjang sehingga dapat mempersingkat waktu dan memenuhi urgensi ketersediaan obat untuk penanganan penyakit baru yang belum ditemukan obatnya.

Ibarat “jalan pintas” langkah ini menjadi solusi yang cepat dan sangat dibutuhkan untuk penanganan Covid-19, paling tidak untuk saat ini di tengah kondisi pandemi. Namun, obat yang digunakan kembali untuk tujuan lain ini tentunya sudah dilakukan tahap pengujian secara ilmiah berkaitan dengan keefektifan terhadap penyakit Covid-19, demi memastikan ketepatan penggunaan terhadap tujuan terapinya. Jadi tidak sembarangan, tanpa ada penelitian dan pengujian yang jelas sesuai standar uji yang ditetapkan.

Tentunya kita berharap kondisi pandemi Covid-19 ini semakin terkendali dengan penanganan penyakit yang tepat dan langkah pencegahan yang efektif melalui vaksinasi serta penerapan protokol kesehatan. Di sisi lain, juga berharap segera ditemukan obat Covid-19 untuk melengkapi usaha kita dalam mengantisipasi dan mewaspadai virus SARS-Cov-2 ke depannya.(*)

Baca juga: Hotline Semarang : Apa Syarat Menggelar Acara Musik dan Panggung Hiburan?

Baca juga: 8 Warga Terluka Tertimpa Longsor di Desa Biting Banjarnegara

Baca juga: Video Kecelakaan Tol Semarang, Truk Kontainer Tak Kuat Nanjak Hantam 3 Mobil Satu Pikap

Baca juga: Video Kecelakaan Tol Semarang, Truk Kontainer Tak Kuat Nanjak Hantam 3 Mobil Satu Pikap

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved