Breaking News:

Gempa Bumi

Analisa Ahli Geologi Unsoed Soal Gempa Swarm di Ambarawa

Ahli Geologi Unsoed menganalisa masifnya gempa susulan yang muncul di Ambarawa Kabupaten Semarang.

TRIBUN JATENG/HERMAWAN HANDAKA
Tenda darurat dari BNPB yang di pasang di halaman parkir RSUD dr. Gunawan Mangunkusumo Jalan R.A. Kartini No. 101 Tambakboyo, Losari, Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (24/10). Tenda ini difungsikan untuk mengantisipasi dampak gemba bumi susulan. 

TRIBUNJATENG.COM, PURWOKERTO - Gempa yang terus berlangsung di wilayah Ambarawa Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga dapat dikategorikan gempa jenis gempa swarm.

Meskipun memiliki kekuatan magnitudo yang kecil tetapi masyarakat tetap harus mewaspadainya.

Pihak BMKG mencatat sudah ada sedikitnya 34 kali gempa di wilayah Ambarawa dan Salatiga. 

Baca juga: Ganjar Pranowo Imbau Warga Kabupaten Semarang Jangan Takut Gempa

Baca juga: Inilah Sosok Danar Ungaran Guru Penyebar Hoaks Gempa Bumi di Semarang Akibatkan 1 Orang Meninggal

Ahli Geologi Struktur Unsoed, Dr. Ir. Asmoro Widagdo mengatakan penyebab gempa swarm berkaitan dengan transpor fluida, atau migrasi magma.

Lokasinya sendiri dekat Rawa dan berada di daerah Vulkanik dan gunung api.

"Jadi batuan dasar disitu adalah gunung api dan ada aktivitas magma dan perpindahan magma dan tranpor fluida.

Sehingga adanya perubahan batuan-batuan dan aktifitas magma serta mengalami rekahan-rekahan," katanya kepada Tribunbanyumas.com, Selasa (26/10/2021). 

Gempa di Ambarawa akan masih sering terjadi sampai keadaan dibawah sekitar dapur magma stabil.

"Nanti akan berhenti sendiri dan memang butuh waktu.

Mungkin perlu waktu dan daerah gunung api sekitar situ perlu di identifikasi dari gunung api yang mana," terangnya. 

Ia menerangkan Gempa Swarm memiliki karakteristik bisa diawali dari yang lebih besar dulu di awal atau bisa juga diawali dengan gempa kecil-kecil dulu. 

"Jadi magma dibawah bergerak terus dan gerakan itu menimbulkan rekahan-rekahan yang menimbulkan seperti gempa-gempa itu," imbuhnya. 

Pihaknya berpesan agar masyarakat selalu waspada dan kalau memungkinkan mencari tempat yang lebih aman dan keluar dari zona vulkanik. 

Analisa zona vulkanik dapat dilihat dari tubuh gunung apinya, apakah ada runtuhan dan dimana lokasi dan persebarannya.

Dari situlah maka akan bisa diinterpretasi, apakah masuk zona waspada atau tidak, sehingga masyarakat supaya mengamankan diri. 

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved