Berita banjarnegara

Siasat Produsen Tempe di Argasoka Banjarnegara saat Harga Kedelai Tinggi

Tempe menjadi makanan rakyat yang hampir dikonsumsi setiap keluarga. Kebutuhan makanan berbahan kedelai itu pun tinggi

Penulis: khoirul muzaki | Editor: Catur waskito Edy
khoirul muzaki
Pembuatan tempe di rumah Turyono Kelurahan Argasoka, Kecamatan Banjarnegara (TRIBUN/KHOIRUL MUZAKKI)  

TRIBUNJATENG. COM, BANJARNEGARA-Tempe menjadi makanan rakyat yang hampir dikonsumsi setiap keluarga. Kebutuhan makanan berbahan kedelai itu pun tinggi. Tak ayal, di berbagai daerah banyak berkembang Industri tempe untuk memenuhi kebutuhan pasar. 

Tak kecuali di Dusun Dusun Wanasari Kelurahan Argasoka, Kecamatan Banjarnegara. Kurang lebih ada 40 industri rumah tangga yang setiap hari memproduksi tempe di wilayah ini. 

Usaha yang dijalankan turun temurun sejak puluhan tahun lalu itu nyatanya masih eksis hingga sekarang.  

Setiap hari, ibu-ibu rumah tangga di kampung itu disibukkan dengan aktivitas membuat tempe yang masih tradisional. 

Seperti di rumah Turyono, Ketua Kelompok Tempe Daun Nyangku Jaya. 

Di ruangan belakang,  beberapa pekerja sibuk membungkus bahan tempe dengan lembaran daun Nyangku. 

Pandemi bagi Turyono tak begitu berdampak terhadap usahanya. Kecuali saat awal-awal pandemi 2020 lalu sempat sedikit lesu. Tapi itu tak berjalan lama.  

Meski ekonomi masyarakat sedang sulit, masyarakat tetap mengonsumsi tempe karena harganya terjangkau. 

"Pandemi awal turun 10 persen. Setelah itu stabil, "katanya, Selasa (26/10/2021) 

Tempe yang telah menjadi makanan harian adalah alasan produksi makanan itu tetap stabil di masa pandemi. Tempe banyak disukai dan harganya bisa dijangkau semua kalangan, baik kalangan atas sampai masyarakat terbawah. 

Masalahnya bukan di permintaan. Harga bahan baku tempe,  yakni kedelai justru melambung di masa pandemi Covid 19. 

Sebelum pandemi, kata dia, harga kedelai hanya Rp 7000 perkilogram. Di awal pandemi Covid 19, saat usaha lesu, justru harga kedelai melambung sampai Rp 12 ribu perkilogram.

Tingginya harga bahan baku itu tentunya membuat pelaku UMKM sepertinya menjerit. Kondisi itu membuat pendapatan produsen menurun. 

"Sekarang Rp 10 ribu perkilogram, " katanya

Kondisi ini membuat produsen tempe dilematis. Untuk menaikkan harga tempe mengikuti kenaikan harga bahan baku cukup berat.  Terlebih di tengah kondisi masyarakat yang sedang susah. 

Untuk mensiasatinya, Turyono memerkecil ukuran tempe untuk mengurangi penggunaan bahan baku kedelai. Sementara harga tidak ia naikkan. 

Cara ini ternyata lebih diterima konsumen ketimbang ia harus menaikkan harga tempe. 
Meskipun, penghasilannya tetap berkurang karena harga bahan baku yang mahal. 

"Gak bisa kalau menaikkan harga tempe. Karena pelanggan saya pedagang sayur, untuk dijual lagi, " katanya (*)

Baca juga: Pelatih Persip Pekalongan Mundur, Ini Penggantinya

Baca juga: Memaknai Bulan Bahasa Bagi SMPN 2 Ngadirejo Temanggung

Baca juga: Alasan Para Pedagang Enggan Jual Minyak Goreng Curah

Baca juga: The Mentors, Film Dokumenter Tentang Eks Napiter Dapat Pujian, Ganjar: Langsung Nonton

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved