Breaking News:

Wawancara

WAWANCARA : Ahmad Nur Wahid Direktur Pencegahan BNPT tentang Dampak Tewasnya Ali Kalora

Satuan Tugas Madago Raya terlibat baku tembak dengan dua daftar pencarian orang (DPO) teroris Poso di daerah Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten P

Tribunnews/JEPRIMA
Direktur Pencegahan BNPT Brigjen Pol Ahmad Nur Wahid bersama Pendiri NII Crisis Center Ken Setiawan saat mengikuti sesi wawancara khusus dengan Tribun Network di Gedung Tribunnews, Jakarta Pusat, Kamis (1/4/2021). Pada pembahasan kali ini mengangkat isu terorisme yang ada saat ini. 

TRIBUNJATENG.COM,  JAKARTA -- Satuan Tugas Madago Raya terlibat baku tembak dengan dua daftar pencarian orang (DPO) teroris Poso di daerah Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sabtu (18/9) sekira 18.00 WITA.

Pimpinan kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Poso Ali Ahmad alias Ali Kalora dan anggotanya Jaka Ramadhan alias Ikrima tewas dalam baku tembak.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Brigjen Pol Ahmad Nur Wahid menegaskan tewasnya Ali Kalora selaku pimpinan bakal berdampak ke kelompok MIT yang tersisa.

Kekuatan mereka diprediksi melemah. Meski demikian, Ahmad mengatakan pihaknya akan terus memburu sisa kelompok Ali Kalora yang disebut tersisa empat orang.

"Kalau secara organisasi, begitu Ali Kalora pimpinan MIT yang di Poso itu kena tembak dan tewas, itu otomatis akan mengurangi daya kekuatan dari kelompok itu.

Tapi kita tidak selesai sampai disini. Kita buru kelompok-kelompok dan jaringan teroris itu sampai tuntas untuk mewujudkan keamanan dan kedamaian di Poso, di Sulawesi Tengah dan seluruh Indonesia," kata Ahmad, Senin (20/9).

Ahmad menyebut kematian Ali Kalora secara otomatis membuat kelompok MIT bakal menunjuk seseorang mengisi posisi tersebut.

Dengan menunjuk pimpinan baru, kelompok itu diyakini bakal bisa segera bergerak dan membalas aksi baku tembak kemarin. Sebab kebencian dan dendam selalu tertanam dan menjadi karakter dari para teroris.

"Otomatis. Itu kan memang ada semacam standar operasional prosedur (SOP) di kelompok-kelompok jaringan teroris maupun radikal.

Kalau pimpinannya tewas ataupun mati, maka langsung yang paling senior atau paling dianggap memiliki kemampuan, dianggap paling berani, paling handal, otomatis akan diangkat jadi pemimpinnya. Tetapi kami Densus 88, BNPT dan Satgas Madago Raya selalu siap segala kemungkinan untuk mengantisipasinya," kata Ahmad.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved