Simpanan Nasabah Bank Tetap Meningkat Meski Suku Bunga Rendah

Data BI mencatat simpanan nasabah perbankan per September 2021 mencapai Rp 6.880,5 triliun, naik 7,8 persen yoy.

Editor: Vito
istimewa
ilustrasi - layanan Permata Bank 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Simpanan dana nasabah atau dana pihak ketiga (DPK) perbankan tercatat terus mengalami pertumbuhan, meski bunga acuan Bank Indonesia (BI) berada di titik terendah sepanjang sejarah.

Berdasarkan data BI, simpanan nasabah perbankan mencapai Rp 6.880,5 triliun, naik 7,8 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada September 2021.

Realisasi itu berasal dari simpanan giro Rp 1.824,1 triliun, tabungan Rp 2.311,8 triliun, dan simpanan berjangka Rp 2.744,6 triliun.

Seiring dengan pertumbuhan positif kinerja industri, sejumlah perbankan juga menorehkan pertumbuhan bisnis.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk misalnya, berhasil menjaga likuiditas yang tercermin dalam peningkatan DPK sebesar 18,5 persen yoy menjadi Rp 1.214 triliun pada September 2021.

"Pertumbuhan DPK ini paling utama disumbang dari sisi dana murah (CASA) yang turut berkontribusi menjaga beban dana (cost of fund). Secara ytd (year to date), CASA Bank Mandiri berada di angka 1,62 persen," kata Direktur Utama Bank Mandiri, Darmawan Junaidi, Kamis (28/10).

Berkat pertumbuhan dana murah dan penyaluran kredit, bank pelat merah itu mampu meningkatkan aset secara konsolidasi. Sampai September 2021, aset Bank Mandiri sudah menyentuh angka Rp 1.637,95 triliun, atau naik 16,44 persen yoy.

Tak mau kalah, PT Bank Mega Tbk juga berhasil meningkat jumlah DPK. Pada periode yang sama, bank yang berbasis di Jakarta itu mampu menghimpun dana nasabah sebesar Rp 85,83 triliun, atau naik 8 persen dari posisi akhir 2020 (ytd).

Direktur Utama Bank Mega, KostamanThayib menuturkan, pertumbuhan tersebut seiring dengan kenaikan jumlah tabungan milik nasabah. Alhasil, dana nasabah yang dihimpun juga bertambah pada tahun ini.

"Tabungan yang tumbuh sebesar 11 persen ytd menjadi Rp 15,30 triliun, dan deposito yang juga tumbuh sebesar 10 persen ytd menjadi Rp 62,54 triliun," terangnya.

Seiring dengan mulai pulihnya perekonomian nasional, Bank Mega juga berhasil meningkatkan penyaluran kredit sebesar 11 persen ytd menjadi Rp 53,94 triliun. Hal itu berkat kontribusi kenaikan kredit korporasi sebesar 25 persen ytd menjadi Rp 32,74 triliun.

Peningkatan kinerja juga diikuti PT Bank OCBC NISP Tbk. Presiden Direktur Bank OCBC NISP, Parwati Surjaudaja menyatakan, DPK perusahaan meningkat 5 persen yoy menjadi Rp 161 triliun, dengan CASA yang juga naik menjadi 49,2 persen dari total DPK.

"Bank OCBC NISP menyalurkan kredit sebesar Rp 117,3 triliun hingga akhir September 2021, di mana mayoritas disalurkan untuk sektor manufaktur, perdagangan, dan jasa," ungkapnya.

Menurut dia, keberhasilan dalam pengendalian kasus covid-19 dan pelaksanaan vaksinasi mendorong pemulihan ekonomi nasional. Hal itu sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat, serta memperbaiki bisnis perbankan.

Untuk mendukung nasabah meraih tujuan finansialnya, Bank OCBC NISP terus mengakselerasi kapabilitas digital, sehingga nasabah mendapatkan manfaat terbaik.

Baru-baru ini, Bank OCBC NISP menghadirkan pembaruan pada ONe Mobile, aplikasi mobile banking untuk menumbuhkan uang.

ONe Mobile memungkinkan nasabah untuk mengelola keuangan pribadi, mengatur pengeluaran, serta mempersiapkan investasi sesuai dengan kebutuhan, mulai dari reksadana, obligasi, deposito, tabungan berjangka, bahkan tabungan valuta asing. (Kontan.co.id/Ferrika Sari)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved