Selasa, 28 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita video

Video Budidaya Kelapa Kopyor di Ngagel Pati Bikin Petani Lain Minat Belajar

Potensi agrowisata kelapa kopyor yang dimilik Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, menjadi daya tarik tersendiri bagi para petani asal Daerah Istimewa Yo

TRIBUNJATENG.COM, PATI - Berikut ini video budidaya kelapa kopyor di Ngagel Pati bikin petani lain minat belajar.

Potensi agrowisata kelapa kopyor yang dimilik Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, menjadi daya tarik tersendiri bagi para petani asal Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Sabtu (30/10/2021), puluhan petani asal Dukuh Naungan, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul, DIY, berkunjung ke Agrowisata Omah Kopyor Desa Ngagel.

Para petani yang tergabung dalam kelompok Tani Lestari Mulyo ini didampingi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY. 

Mereka belajar langsung cara penanaman kelapa kopyor yang baik dan benar di sentra kelapa kopyor yang berada di Kabupaten Pati itu.

Kasi Produksi Tanaman Perkebunan pada DPKP DIY, Bambang Budiadi, menilai potensi agrowisata kelapa kopyor yang dipadukan dengan sajian kuliner sebagaimana di Dukuhseti ini sangat menjanjikan. 

Ia menyebut, di wilayahnya, model wisata seperti ini belum ada. 

"Para petani sengaja jauh-jauh datang ke sini untuk melihat teknis penanaman kelapa kopyor secara langsung. Ternyata agrowisata yang dipadukan dengan kuliner seafood di sini sangat menjanjikan. Nantinya di Jogja bisa kami padukan dengan kuliner ayam ingkung," kata Bambang.

Ia menyebut, kunjungan ke Omah Kopyor di Desa Ngagel murni inisiatif dan swadaya para petani yang ingin mengembangkan agrowisata kelapa kopyor di Yogyakarta.

Bambang berharap, dengan mengetahui cara penanaman dan perawatan kelapa kopyor yang benar, para petani akan mampu meningkatkan perekonomian sehingga mampu bangkit pascapandemi Covid-19.

"Kebetulan kondisi geografis di Dukuh Naungan hampir sama seperti di sini. Sehingga kami yakin bisa mengembangkan potensi agrowisata kopyor di Yogyakarta," ucap dia. 

Sementara, Pengelola Omah Kopyor, Tulus Sanyoto mengingatkan para petani pemula yang ingin mengembangkan kelapa kopyor agar tidak mudah terbuai dengan nilai ekonomis yang tinggi. 

Menurut dia, ada beberapa persoalan teknis yang harus dipahami sebelum menanam kelapa kopyor

"Jadi pemula jangan semata-mata membayangkan nilai ekonomisnya yang memang fantastis dibanding kelapa biasa. Karena dalam setiap tandan, buah kelapa yang kopyor alami hanya sekitar 25 hingga 35 persen. Dan potensi pohon berbuah kopyor itu hanya 70 persen dari total yang kita tanam," papar dia. 

Tulus menjelaskan, hal yang perlu diperhatikan selama menanam kelapa kopyor adalah cara pemupukan. 

Pemupukan harus maksimal saat pohon kelapa mendekati masa berbuah. 

Hal ini supaya malai buah yang dihasilkan kian panjang dan pada akhirnya buah yang dihasilkan banyak. 

"Selain itu, potensi serangan hama utama kelapa, yaitu kwangwung, juga harus diperhatikan. Harus dilakukan pengendalian dengan memperhatikan kebersihan dan sistem sanitasi lingkungan. Upayakan juga jauh dari peternakan sapi," jelas Tulus. 

Saat ini, lanjut Tulus, kebutuhan kelapa kopyor untuk pengunjung agrowisata seluas 3.500 meter persegi itu mencapai 300 butir per bulan.

Di tingkat pengepul, harga kelapa kopyor bervariasi antara Rp 25 ribu hingga Rp 57 ribu, bergantung diameter buah. 

Selain buah kelapa kopyor, pihaknya juga menjual bibit.

Jumlahnya sekira 150 bibit per bulan dengan harga satuan Rp 25 ribu. 

"Adapun bibit yang bersertifikat dijual Rp 30 ribu. Jadi, bertani kopyor masih sangat menjanjikan. Pasarnya sangat terbuka lebar. Setelah objek wisata boleh beroperasi lagi, Omah Kopyor mulai ramai pengunjung. Omzet kami saat ini bisa mencapai Rp 1 juta hingga Rp 1,8 juta tiap akhir pekan," tandas Teguh. (mzk)

TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE:

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved