Fokus
Fokus : Iya Apa Tidak
SAKING banyaknya berita hoaks (hoax) ada kabar benar sesuai kenyataan pun dikira hoaks. Bertanya iya apa tidak. Sekian banyak akun penebar hoaks
Penulis: iswidodo | Editor: Catur waskito Edy
Oleh Iswidodo
Wartawan Tribun Jateng
SAKING banyaknya berita hoaks (hoax) ada kabar benar sesuai kenyataan pun dikira hoaks. Bertanya iya apa tidak. Sekian banyak akun penebar hoaks diblokir dan pelaku ditangkap, tapi muncul penebar hoaks baru lebih banyak lagi. Dan begitu seterusnya entah kapan habisnya.
Media sosial Facebook menjadi platform terbanyak persebaran hoaks. Kementerian Kominfo mengindentifikasi 1.971 isu hoaks terkait Covid-19 pada 5.065 unggahan di media sosial sejak Januari 2020. Dari total itu, sebanyak 4.368 sebaran hoaks di medsos Facebook. Baru kemudian disusul Instagram, Youtube atau Tiktok.
Kementerian Kominfo memutus akses 4.936 unggahan dan menindaklanjuti 129 unggahan. Dan pada saat pemerintah sedang gencar-gencarnya melakukan program vaksinasi massal, muncul ribuan isu hoaks terkait vaksinasi. Bisa dihitung sekian persen isu hoaks dari total informasi yang benar. Sampai-sampai berita pentingnya vaksinasi yang benar, tertutup oleh berita hoaks yang bersilewaran.
Pemerintah memberlakukan PPKM. Muncul juga 48 isu hoaks pada 1.110 unggahan di media sosial. Terbanyak di Facebook. Terkait hoaks isu PPKM, Kominfo telah memutus akses pada 964 unggahan dan menindaklanjuti 146 unggahan lainnya.
Berita hoaks menyebutkan, vaksinasi ini adalah antena dari luar negeri, pengendali manusia yang disusupkan ke dalam tubuh. Vaksin mengandung parasit hidup yang berkembang dalam tubuh manusia. Isu-isu semacam itu adalah bohong dan meresahkan.
Ada kabar awal bahwa Vanessa Angel dan Bibi Ardiansyah suaminya meninggal dunia dalam kecelakaan di tol Jombang. Sebagian masyarakat tak percaya dan mengira itu kabar hoaks. Namun setelah kroscek di media mainstream atau media arus utama ada kabar kecelakaan tersebut, disertai foto dan video, barulah netizen percaya sepenuhnya.
Berita hoaks tentang vaksin, PPKM, PCR, antigen, kadang juga dipercaya oleh sebagian pembaca. Apalagi bila peraturan dari pemerintah cepat berubah. Di satu sisi berita hoaks bertebaran.
Masyarakat jadi bingung membedakan mana yang benar. Ujung-ujungnya kembali kroscek pemberitaan di media arus utama, Kompas.com atau Tribunnews.com atau Tribunjateng.com misalnya. Bisa menjadi rujukan konfirmasi dan memastikan apakah suatu kabar bohong atau tidak.
Berdasar data internetworldstats Maret 2021, pengguna internet Indonesia mencapai 212,35 juta jiwa. Dan tentu Oktober ini sudah meningkat lebih banyak lagi. Bisa dibayangkan, sekali menebar isu hoaks, ada berapa orang termakan kabar bohong tersebut.
Kominfo menyarankan beberapa cara identifikasi apakah isu/berita itu hoaks atau tidak. Jika judul berita itu provokatif, dan dirasa meragukan, maka sebaiknya netizen atau warganet tidak menyebarluaskan. Yang tak kalah penting adalah, cermati situs atau website sumber pemberitaan itu.
Apakah website kredibel terpercaya atau tidak dikenal tiba-tiba muncul. Mengikuti serta berlangganan situs berita dan media sosial resmi milik surat kabar mainstream merupakan langkah positif menyaring informasi. (*)
Baca juga: Ternyata Ini Kandungan Jahe yang Berkhasiat Baik untuk Tubuh
Baca juga: Inzaghi Percaya Diri Inter Milan Bisa Beri AC Milan Kekalahan Perdana di Liga Italia Karena Hal Ini
Baca juga: Kecelakaan Truk Terbalik di TTS: 4 Orang Tewas dan 32 Luka-Luka
Baca juga: 16 Contoh Surat Lamaran Kerja Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris Bagi Fresh Graduate
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/iswidodo-wartawan-tribunjatengcom-ok_20171019_070705.jpg)