Berita Semarang

Pelaku Wisata Semarang Tunggu Regulasi Natal dan Tahun Baru 

General Manager Kampoeng Kopi Banaran, Frina Bonita menjelaskan, tim satgas internal ini telah mendapat pembekalan standart operasional dan prosedur (

Penulis: hermawan Endra | Editor: m nur huda

TRIBUNJATENG.COM, UNGARAN - Kampoeng Kopi Banaran telah membentuk tim satuan tugas (satgas) penanganan covid-19 internal.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya meningkatkan kewaspadaan dan pencegahan penyebaran virus covid-19, khususnya nanti pada saat moment natal dan pergantian tahun. 

General Manager Kampoeng Kopi Banaran, Frina Bonita menjelaskan, tim satgas internal ini telah mendapat pembekalan standart operasional dan prosedur (SOP) untuk mengatur kerumunan.

Sehingga masyarakat masih tetap bisa berwisata dengan mengedepankan prinsip protokol kesehatan. 

"Jumlah tenaga tim satgas internal yang kami siapkan ada enam sampai sepuluh orang persifnya. Sehari dibagi dalam dua sif," kata Frina Bonita, Jumat (6/11/2021). 

Ia mengungkapkan, terkait natal dan tahun baru, para penggiat destinasi wisata di Kabupaten Semarang masih menunggu regulasi dari pemerintah.

Apakah pada moment tersebut boleh diselenggarakan event atau tidak, serta aturan lain. 

"Saat ini kami berupaya membantu pemerintah dengan menggelar percepatan vaksinasi, kami ingin Kabupaten Semarang turun menjadi level 1 seperti Semarang Kota," imbuhnya.

Ia berharap dengan penurunan level di Kabupaten Semarang membuat regulasi bisa lebih longgar, demikian juga dengan peyelengaraan event. 

"Kami bisa pastikan event mengedepankan prokes seperti scan peduli lindungi, dan lain sebagainya," imbuhnya. 

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Letjen TNI Ganip Warsito mengingatkan kepada seluruh komponen di daerah agar mewaspadai adanya potensi gelombang ketiga penularan COVID-19 di Tanah Air yang menurut para ahli dapat terjadi di akhir tahun.

“Ancaman gelombang ketiga yang diprediksi oleh para ahli akan terjadi di bulan Desember,” kata Ganip.

Akhir tahun atau bulan Desember bertepatan dengan dua momentum besar yakni Hari Raya Natal dan pergantian tahun, yang mana menurut Ganip pada periode tersebut berpotensi memicu keinginan masyarakat untuk beraktivitas di luar ruangan.

Di samping itu, akhir tahun juga masih masuk dalam periode pergantian cuaca, yang mana hal itu juga mempengaruhi daya tahan tubuh sehingga mudah terserang penyakit.

“Karena di situlah saat Nataru, di situlah adanya pergantian cuaca. Ini yang menjadi suatu ancaman peningkatan COVID-19,” ujar Ganip.

Menyongsong akhir tahun yang juga diprediksi akan membawa ancaman gelombang ketiga menurut para ahli, namun Ganip optimis bahwa hal itu dapat dicegah dan dikendalikan sehingga tidak terjadi.

Ganip menjelaskan bahwa kunci pencegahan dan mitigasi penularan COVID-19 sudah diketahui, yakni dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat dan vaksinasi. Di sisi lain, pola penanganannya juga sudah ditemukan.

Dua dasar tersebut bagi Ganip merupakan hal yang harus senantiasa dilaksanakan demi mencegah terjadinya ledakan kasus di akhir tahun, sebagaimana menurut prediksi para ahli.

“Tapi saya yakin dengan kekuatan dan pola penanganan yang sudah ditemukan, maka kita boleh yakin Desember tidak akan terjadi gelombang ketiga,” kata Ganip.(*)

Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved