Breaking News:

Tahan Dampak Pandemi, Aset Keuangan Syariah Capai Rp 1.901 Triliun

keuangan syariah menunjukkan ketahanan terhadap dampak pandemi covid-19, dengan menguasai 10,11 persen dari total aset keuangan di Indonesia.

Editor: Vito
TRIBUN JATENG/M ZAINAL ARIFIN
ilustrasi - layanan BSM Cabang Semarang 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset institusi keuangan syariah tumbuh sebesar 17,32 persen yoy dengan nilai nominal 132,7 miliar dollar AS, atau setara Rp 1.901,1 triliun per September 2021.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso mengatakan, aset itu antara lain terdiri perbankan syariah sebesar 43,58 miliar dollar AS atau senilai Rp 624,4 triliun.

Kemudian pasar modal syariah (sukuk dan reksadana) 80,95 miliar dollar AS atau senilai Rp 1.159,8 triliun, dan Lembaga Keuangan Non-Bank Syariah 8,16 miliar dollar AS atau setara Rp 116,9 triliun.

Pada periode yang sama, menurut dia, pembiayaan bank umum syariah mencatat pertumbuhan sebesar 6,8 persen yoy, lebih tinggi dari pertumbuhan kredit nasional sebesar 2,21 persen yoy.

"Ketahanan perbankan syariah juga berhasil dipertahankan selama masa pandemi, yang ditunjukkan oleh permodalan yang kuat dengan CAR 23,17 persen, dan risiko pembiayaan yang stabil dengan NPF gross 3,23 persen," katanya, dalam keterangan resmi, Jumat (5/11).

Wimboh menuturkan, keuangan syariah menunjukkan ketahanan terhadap dampak pandemi covid-19. Bahkan, sektor ini berkontribusi pada ekonomi nasional dengan menguasai 10,11 persen dari total aset keuangan di Indonesia.

Berkat kinerja yang positif, OJK menggandeng Dubai FSA untuk memperkuat kerja sama industri keuangan syariah. Kerja sama tersebut di bidang keuangan syariah, industri halal, sustainable finance, fintech, cybersecurity, dan pengawasan berbasis teknologi.

Pertemuan itu merupakan implementasi dan penegasan kembali atas MoU yang telah ada 6 tahun lalu melalui capacity building dan sharing pengalaman dalam mengatasi permasalahan ekonomi di masa pandemi covid-19.

DFSA pun menyambut baik dan menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan OJK untuk mendukung penguatan ekonomi syariah global melalui peningkatan pengawasan industri keuangan syariah.

Wimboh berharap, kerja sama itu tidak hanya berkontribusi pada pengembangan industri keuangan syariah, tetapi juga dapat mempererat hubungan antara Indonesia dengan negara-negara khususnya di Uni Emirat Arab (UEA) yang merupakan satu pusat investasi global.

Kerja sama OJK dengan DFSA yang diperluas dalam rangka memperkuat pengawasan dan pengembangan industri syariah itu dimulai dengan pembukaan kantor representatif PT Bank Syariah Indonesia, Tbk (BSI) di Dubai, yang akan membuka peluang bagi investor di Dubai untuk berinvestasi di Indonesia.
(Kontan.co.id/Ferrika Sari)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved