Breaking News:

Ada 17 Pemain, Fintech Syariah Tumbuh Positif

pertumbuhan fintech syariah di Indonesia hingga saat ini menggembirakan. Pendatang baru di industri ini memiliki potensi besar untuk berkembang.

Editor: Vito
shutterstock.com
ilustrasi fintech 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI) mencatat saat ini sudah ada 17 penyelenggara fintech syariah yang tercatat, terdaftar maupun berizin dari regulator.

Ketua Umum Asosiasi Fintech Syariah Indonesia (AFSI), Ronald Yusuf Wijaya mengatakan, penyelenggara fintech tersebut meliputi fintech p2p lending, Inovasi Keuangan Digital (IKD) dan securities crowdfunding.

“Totalnya sekitar ada 17, itu adalah fintech-fintech gabungan dari peer-to-peer, sekitar ada enam dari grup Inovasi Keuangan Digital, dan ada satu yang di bawah POJK 57 atau securities crowdfunding,” katanya, dalam peresmian 'Bulan Fintech Nasional (BFN) dan 3rd Indonesia Fintech Summit 2021', secara virtual, Senin (8/11).

Ia mengakui, semasa pandemi covid-19 ada beberapa penyelenggara syariah yang tidak bisa melanjutkan operasionalnya dengan jumlah yang signifikan. Namun, ia tidak menyebutkan jumlah pastinya.

Di sisi lain, Ronald menyebut, pertumbuhan fintech syariah di Indonesia hingga saat ini menggembirakan. Pendatang baru di industri ini memiliki potensi besar untuk berkembang.

Menurut dia, hal itu mengingat beberapa pemain baru memiliki latar belakang yang kuat untuk industri ini. “Harapannya, ini benar-benar bisa jadi support system baru untuk industri fintech syariah,” ucapnya.

Saat ini, walaupun diakui industri fintech syariah ini masih kecil, ia melihat pertumbuhannya sudah cukup signifikan. “Kami melihat bahwa baru 10 bulan di tahun ini sudah mengalami 50 persen kenaikan,” bebernya.

Ronald melihat antusias masyarakat menggunakan fintech syariah masih tinggi berdasarkan jumlah user dan proyek-proyek UKM yang masuk ke fintech syariah.

Ia mengklaim, penggunaan fintech syariah untuk pembiayaan kegiatan produktif mendominasi mencapai 80 persen. "Pembiayaan tercatat di OJK dari fintech syariah menunjukkan tingkat pengembalian sangat baik dan 80 persen digunakan untuk pembiayaan produktif," paparnya.

Adapun, industri financial technology (fintech) masih mencatatkan pertumbuhan penyaluran pembiayaan yang signifikan di tengah sorotan dan upaya pemberantasan pijaman online (pinjol) ilegal.

Data Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) mencatat, akumulasi penyaluran dana fintech terdaftar dan berizin hingga kuartal III/2021 mencapai Rp 262,93 triliun, tumbuh 104,3 persen secara tahunan (year on year/yoy).

Selaras dengan pertumbuhan tersebut, outstanding kredit industri fintech juga melesat 116,18 persen secara yoy menjadi Rp 27,48 triliun pada akhir September 2021.

Dengan melihat realisasi tersebut, Advisor Grup Inovasi Keuangan Digital OJK, Maskum mengatakan, keberadaan fintech menjadi penting bagi perekonomian nasional, khususnya dalam rangka meningkatkan angka inklusi keuangan.

"Perkembangan fintech sangat membantu upaya meningkatkan inklusi keuangan di masyarakat," ucapnya. (Kontan.co.id/Adrianus Octaviano/Kompas.com/Rully R Ramli/Tribunnews/Yanuar Riezqi Yovanda)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved