Berita Perbankan

Alasan Kenapa Keuangan Syariah Tetap Tumbuh Baik di Tengah Pandemi Covid-19

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset institusi keuangan syariah tumbuh sebesar 17,32 persen yoy dengan nilai nominal 132,7

Istimewa
Pelaksanaan Webinar Edukasi Keuangan Syariah yang diselenggarakan Kantor OJK Regional 3 Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total aset institusi keuangan syariah tumbuh sebesar 17,32 persen yoy dengan nilai nominal 132,7 miliar dollar AS, atau setara Rp 1.901,1 triliun per September 2021.

Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso mengatakan, aset itu terdiri perbankan syariah sebesar 43,58 miliar dollar AS atau senilai Rp 624,4 triliun, kemudian pasar modal syariah (sukuk dan reksadana) 80,95 miliar dollar AS atau senilai Rp 1.159,8 triliun. Selanjutnya, Lembaga Keuangan Non-Bank Syariah 8,16 miliar dollar AS atau setara Rp 116,9 triliun.

Pada periode yang sama, menurut dia, pembiayaan bank umum syariah mencatat pertumbuhan sebesar 6,8 persen yoy, lebih tinggi dari pertumbuhan kredit nasional sebesar 2,21 persen yoy.

"Ketahanan perbankan syariah juga berhasil dipertahankan selama masa pandemi, yang ditunjukkan oleh permodalan yang kuat dengan CAR 23,17 persen, dan risiko pembiayaan yang stabil dengan NPF gross 3,23 persen," katanya, dalam keterangan resmi, Jumat (5/11).

Wimboh menuturkan, keuangan syariah menunjukkan ketahanan terhadap dampak pandemi covid-19. Bahkan, sektor ini berkontribusi pada ekonomi nasional dengan menguasai 10,11 persen dari total aset keuangan di Indonesia.

Berkat kinerja yang positif, OJK menggandeng Dubai FSA untuk memperkuat kerja sama industri keuangan syariah. Kerja sama tersebut di bidang keuangan syariah, industri halal, sustainable finance, fintech, cybersecurity, dan pengawasan berbasis teknologi.

Pertemuan itu merupakan implementasi dan penegasan kembali atas MoU yang telah ada 6 tahun lalu melalui capacity building dan sharing pengalaman dalam mengatasi permasalahan ekonomi di masa pandemi covid-19.

DFSA pun menyambut baik dan menyatakan kesiapannya untuk bekerja sama dengan OJK untuk mendukung penguatan ekonomi syariah global melalui peningkatan pengawasan industri keuangan syariah.

Wimboh berharap, kerja sama itu tidak hanya berkontribusi pada pengembangan industri keuangan syariah, tetapi juga dapat mempererat hubungan antara Indonesia dengan negara-negara khususnya di Uni Emirat Arab (UEA) yang merupakan satu pusat investasi global.

Kerja sama OJK dengan DFSA yang diperluas dalam rangka memperkuat pengawasan dan pengembangan industri syariah itu dimulai dengan pembukaan kantor representatif PT Bank Syariah Indonesia, Tbk (BSI) di Dubai, yang akan membuka peluang bagi investor di Dubai untuk berinvestasi di Indonesia.

Kantongi izin

Adapun, BSI telah mendapat izin prinsip operasional dari Dubai International Financial Center (DIFC) untuk membuka kantor di Dubai, UEA. Izin berupa Letter of Incorporation yang diterima BSI menandai bahwa bank syariah terbesar di Tanah Air itu secara resmi dapat membuka pasar di wilayah Timur Tengah.

Dengan akta pendirian tersebut, BSI resmi menjadi bagian dari DIFC. Hal itu membuat BSI selangkah lebih dekat untuk mencapai tujuannya menjadi pemain kunci dalam industri perbankan syariah global.

Menanggapi hal itu, Menteri BUMN, Erick Thohir menyatakan, hal itu merupakan penanda rekam jejak pertama BSI di pasar global. Menurutnya, BSI akan menjadi bank dari Indonesia pertama yang memiliki kantor perwakilan di kawasan Timur Tengah.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved