Breaking News:

Berita Tegal

Harga Ayam Potong Ikut Alami Kenaikan, Saat Ini Rp 40 Ribu Per Kilogram, Pembeli Mengeluh

Menurut salah satu pedagang ayam potong di Pasar Trayeman Slawi Susianti atau kerap disapa Tini, kenaikan harga sudah terjadi sejak sebulan yang lalu

Penulis: Desta Leila Kartika | Editor: muslimah
TribunJateng.com/Desta Leila Kartika
Foto salah satu pedagang ayam potong di Pasar Trayeman Slawi Susianti atau kerap disapa Tini, sedang melayani pembeli nya, pada Senin (8/11/2021) kemarin. Harga ayam potong saat ini di Kabupaten Tegal naik kisaran Rp 38 ribu - Rp 40 ribu per kilogram. 

TRIBUNJATENG.COM, SLAWI - Tidak hanya minyak goreng dan cabai yang mengalami kenaikan harga, di Pasar Trayeman Slawi Kabupaten Tegal, ayam potong juga alami kenaikan harga yaitu menjadi kisaran Rp 38 ribu - Rp 40 ribu per kilogram.

Menurut salah satu pedagang ayam potong di Pasar Trayeman Slawi Susianti atau kerap disapa Tini, kenaikan harga sudah terjadi sejak sebulan yang lalu.

Tini bercerita, harga ayam potong sering mengalami naik turun harga atau tidak stabil.

Jadi, dalam dua hari bisa saja harga turun, nanti seminggu atau beberapa hari turun lagi Rp 1.000 atau Rp 500, nanti naik lagi, begitu seterusnya.

Namun untuk harga Rp 38 ribu - Rp 40 ribu per kilogram kurang lebih sejak sebulan terakhir.

"Sebelumnya pernah harga Rp 35 ribu per kilogram, terus ini naik lagi harga Rp 38 ribu - Rp 40 ribu per kilogram. Ya kalau bahas penjualan, jujur saat ini sedang sepi, karena kunjungan pembeli ke pasar juga turun," ujar Tini, pada Tribunjateng.com, Senin (8/11/2021) kemarin.

Pada kesempatan ini, Tini pun mengeluhkan kondisi pasar yang sekarang ini masih sepi dari pengunjung atau pembeli

Bahkan penjualannya sangat jauh berbeda dengan sebelum adanya pandemi Covid-19. 

Belum lagi harga ayam potong yang terus mengalami naik turun, sehingga banyak pembeli akhirnya lebih memilih untuk membeli ayam lewat pedagang keliling. 

Karena Tini menyebut beberapa ada yang menjual dibawah harga jual di pasar atau lebih murah. 

"Kalau saya dulu bisa menghabiskan sampai 60 ekor ayam per hari, kalau sekarang maksimal paling 40 ekor ayam per hari, itu pun tidak mesti.

Kondisi seperti ini sejak pandemi Covid-19, ditambah maraknya penjual ayam keliling di kampung-kampung, itu sangat berpengaruh terhadap penjualan di pasar," ungkapnya.

Sementara itu, pembeli ayam potong, Tarminah, mengaku merasa keberatan dengan adanya kenaikan harga beberapa bahan seperti minyak goreng, telur, cabai, ayam, karena pendapatannya sebagai pemilik warung makan berkurang.

Ia pun tidak bisa seenaknya menaikan harga makanan, karena yang ada pelanggan nya akan protes dan berakhir tidak jadi membeli makanan di warung makannya yang berlokasi di daerah Slawi.

"Iya saya sudah tahu mengenai kenaikan harga minyak goreng, ayam, dan lain-lain. Kalau saya penginnya harga kembali stabil jangan terlalu mahal, karena saya dapat untung juga tidak seberapa tapi ini harga bahan baku malah pada naik. Lumayan terdampak, tapi mau menaikkan harga juga tidak bisa yang ada pada protes nanti," pungkasnya. (dta)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved