Rabu, 8 April 2026
Wonosobo Hebat
Selamat Datang di Superhub Pemkab Wonosobo

Berita Banjarnegara

Jembatan Bambu Penghubung 2 Desa di Banjarnegara Ini Sering Hanyut Diterjang Banjir

Akses penyeberangan yang menghubungkan dua desa itu dan desa lain di sekitarnya hanyut terbawa banjir, sekitar sepekan lalu. 

Penulis: khoirul muzaki | Editor: m nur huda
istimewa
Jembatan bambu di Desa Larangan Kecamatan Pagentan, Banjarnegara dulu sebelum hanyut, tahun 2019 lalu. 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Penderitaan warga di wilayah perbatasan, Desa Larangan Kecamatan Pagentan, Banjarnegara dan Desa Jebengplampitan Kecamatan Sukoharjo, Wonosobo belum juga berakhir. 

Akses penyeberangan yang menghubungkan dua desa itu dan desa lain di sekitarnya hanyut terbawa banjir, sekitar sepekan lalu. 

Kejadian ini bukan yang pertama. Jembatan bambu yang dibangun secara swadaya oleh warga itu berulangkali hanyut diterjang banjir.  Insiden yang berulang ini membuat warga frustasi. 

Jembatan yang dibangun susah payah, selalu hilang terbawa air bah. Ini seperti pekerjaan sia-sia.  Tapi jembatan itu, apapun bentuknya, amat berarti bagi warga. 

Baca juga: KPK Telusuri Modus Budhi Sarwono Menarik Fee Proyek di Banjarnegara

Baca juga: Masalah Baru Longsor Dukuh Kandri Banjarnegara, Sumber Mata Air Warga Hilang

Baca juga: Rawan Bencana Alam di Banjarnegara, Polisi Ingatkan Masyarakat untuk Waspada

Baca juga: Mangkir, KPK Ultimatum Anggota DPRD Banjarnegara, Rachmanudin Sebut Belum Dapat Panggilan Resmi

Karena itu, meski rapuh dan bakal hanyut nantinya, mereka selalu berusaha membangunnya kembali dengan bahan alam seadanya. 

"Sudah berulang kali jembatan dibangun terus hanyut karena banjir. Sampai capek, " kata Kades Larangan Harto, Selasa (9/11/2021) 

Meski terbukti tak kuat menahan terjangan arus, warga tetap menggunakan bambu untuk material jembatan.  Hanya bahan itu yang mampu dijangkau warga. 

Karena untuk membangun jembatan permanen butuh anggaran besar.

Harusnya, pemerintah yang melaksanakannya. 

Sayang, wacana pembangunan jembatan permanen di lokasi itu belum juga terealisasi. 

Warga sampai lelah karena berulang kali membangun jembatan bambu yang mudah hanyut terbawa banjir. 

Kini, setelah jembatan hanyut, ia mengaku pusing. Bukannya warga enggan gotong royong. Masalahnya, mereka kehabisan stok bambu untuk membuat jembatan. 

Bambu yang dipakai untuk membangun jembatan adalah swadaya warga. Harto pun mengaku kerap menyumbangkan bambunya untuk kebutuhan jembatan.

Tapi kini ia mengaku sudah tidak memiliki bambu karena sering  ditebang untuk pembangunan jembatan.

Kini warga kesulitan untuk membangun jembatan baru karena ketiadaan bahan. 

"Itu bambunya kan jenis Bambu Petung, di sini sudah habis," katanya.(*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di

Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved