Berita Semarang
Pakar Manajemen Perubahan Sebut Ada Dua Hal Tak Boleh Hilang dari Pendidikan Indonesia
Pakar manajemen perubahan Hendro F sebut ada 2 hal yang tak boleh hilang dari pendidikan.
Penulis: iwan Arifianto | Editor: sujarwo
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pakar manajemen perubahan Hendro Fujiono menyebut ada dua hal yang tak boleh hilang dari pendidikan Indonesia yaitu identitas dan semangat inklusifitas.
Identitas harus menjadi kebanggan be
rupa bahasa, adat istiadat, dan lainnya. Sedangkan inklusifitas dibutuhkan merangkul bukan memukul, baginya,keragaman adalah anugerah.
"Dua hal itu harus dipertahankan agar bangsa Indonesia menjadi semakin besar," terangnya saat menjadi pembicara di forum Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP) bekerjasama dengan PT Paragon Technology and Innovation, melalui zoom, Selasa (9/11/2021).
Ia menyebut, semisal ingin mengubah pendidikan harus melihat pendidikan sebagai Complex Adaptive System atau sistem yang memiliki dua karakteristik karena di pendidikan melibatkan banyak hal dari siswa, orangtua, guru, dan lainnya.
Mereka adalah heterogenous agents, setiap agent memiliki keputusan berbeda-beda.
"Cara mengambil keputusan mereka juga berevolusi, semisal saat ini ada syarat kartu vaksin dan sistem zonasi. Setiap keputusan selalu berkembang," katanya.
Menurutnya, setiap ingin mengubah sistem pendidikan, pasti ada reaksi berbeda-beda. Di sisi lain, setiap orang juga memulainya di titik pangkal yang berbeda-beda.
Belum lagi ada kendala interaksi, perbedaan persepsi, kapabilitas dan perbedaan operasional.
Lantas, fundamental perubahan yang perlu dibangun yang pertama adalah perubahan dilakukan dengan perencanaan yang baik.
Ia menjelaskan, ketika ingin merubah dunia pendidikan harus pula memperhatikan faktor eksternal.
Dalam hal ini, ia membagi dunia saat ini menjadi dua yaitu Vuca atau zaman dari tahun 1980an dengan zaman Bani dari tahun 2020.
"Dunia sudah seperti ini, ketika ingin mendorong perubahan jangan menafikan kondisi ini karena itu real terjadi," terangnya.
Kedua, pemahaman yang baik dalam kebiasaan bersama dan perbedaan pengetahuan hal yang sangat penting.
Bangsa Indonesia harus tahu konteks jika hal itu dilakukan maka bisa adaptif, maka bangsa ini tak menjadi operator terus.
Soal adaptif bangsa Indonesia memiliki modal yang besar.
"Dalam hal ini manusia dan proses harus disatukan," jelasnya.
Ketiga, pemimpin perubahan adalah memberdayakan bukan mengatur. Hal itu dicontohkan dalam studi kasus berupa perkumpulan anak muda di kafe yang seminggu sekali bertemu.
Mereka menyadari kegiatan kumpul-kumpul akan percuma tanpa menjadi problem solving. Selanjutnya mereka diberi dana hibah untuk menjalankan program vaksin untuk sekolah.
Awalnya mereka sangat semangat tetapi dalam perjalannya anggotanya menganggu tak bisa kolaborasi sampai hilang harapan.
Namun ketika pemimpin perubahan didukung program tersebut dapat berjalan. Program berupa pemberian seribu vaskin bagi pelajar dapat berjalan dengan biaya 30 persen lebih murah.
Program itu contoh dari pemuda yang memiliki kekuatan problem solving dan direct impact.
"Ini contoh studi kasus yang kita lakukan secara langsung, ini lo pendidikan bisa seperti ini, orang-orangnya dari pendidikan yang berbeda kemampuan berbeda tetapi ketika bergabung menjadi inklusi, diversity dilakukan jadi tuh barangnya," terangnya.
Sementara itu, CEO PT Paragon Technology and Innovation Salman Subakat menjelaskan, manajemen perubahan sangat kental di perusahaan maka pihaknya bersama pakar manajemen perubahan untuk merumuskan di sektor sosial utamanya di pendidikan.
Di perusahaan dibedakan beberapa level seperti golongan ratusan miliar, ratusan triliun dan lainnya.
Semisal itu diterapkan di dunia pendidikan Indonesia maka CEO pendidikan harus seperti apa?, sebab dunia pendidikan Indonesia sangat besar sekali.
"Jadi leadership di dunia pendidikan bukan perorangan tetapi sistem, semua orang harus memimpin dalam menggerakan pendidikan," tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jateng/foto/bank/originals/pakar-manajemen-perubahan2.jpg)