Breaking News:

Berita Banjanegara

Ahli Ingatkan Banjarnegara Rawan Longsor, Belajar dari Bencana di Sijeruk, Tewaskan Ratusan Warga

Ahli geologi memperingatkan bahaya potensi longsor akibat curah hujan yang tinggi di Kabupaten Banjarnegara dan Purbalingga. 

Penulis: khoirul muzaki | Editor: moh anhar
DOKUMENTASI
Longsor di Desa Karangnangka, Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, Kamis (11/11/2021). 

TRIBUNJATENG.COM, BANJARNEGARA - Ahli geologi dari Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta, Prof Sari Bahagiarti Kusumayudha dan Andi Sungkowo memperingatkan bahaya potensi longsor akibat curah hujan yang tinggi di Kabupaten Banjarnegara dan Purbalingga. 

Ini diungkapkan saat Sosialisasi Antisipasi Bencana Gerakan Tanah yang digelar Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah,  di aula SMAN 1 Wanadadi kemarin, Rabu (10/11/2021) kemarin. 

Baca juga: Banjir di Sejumlah Wilayah Semarang setelah Hujan Deras, DPU Upayakan Genangan Tak Berlangsung Lama

Baca juga: Hebat, Atlet Panahan Asal Purbalingga Berhasil Raih Medali Emas di Peparnas Papua

Kegiatan yang dihadiri BPBD Jawa Tengah, BPBD kabupaten dan puluhan Camat, Kepala Desa, Kepala SMA/SMK di Kabupaten Banjarnegara dan Purbalingga itu untuk mencegah bahaya akibat bencana tanah longsor di wilayah  rawan. 

Andi Sungkowo mengungkapkan, tingginya curah hujan di Banjarnegara ditambah kondisi kemiringan tanah menjadikan potensi tanah bergerak di daerah ini sangat tinggi. 

Ia mencontohkan, kasus longsor di Dusun Gunungraja Desa Sijeruk tahun 2006. Curah hujan yang sangat tinggi sementara pepohonan tidak cukup mengikat erat tanah. 

Warga yang beberapa hari sebelum longsor kerja bakti memotong lereng untuk membuat jalan. Aktivitas memotong lereng itu memerparah potensi longsor yang lebih hebat. 

"Karenanya, saya harap hati-hati ketika memotong lereng. Lihat kondisi di atasnya seperti apa, karena bisa memicu longsor," jelas Andi

Sementara itu, Prof Sari mengungkapkan, upaya pencegahan yang dilakukan, akan  efektif mengurangi risiko bencana. 

Warga di wilayah rawan bisa memastikan tanaman yang dipakai untuk mengikat tanah tepat, yakni berakar tunggang. 

Kepala Dinas ESDM Provinsi Jawa Tengah Sujarwo Dwi Atmoko mengatakan, warga dan pihak terkait harus tanggap dalam situasi curah hujan seperti ini.

Jika mampu menganalisis gejala-gejala yang ada pada alam, warga akan bisa menyikapinya secara tepat untuk meminimalisasi risiko bencana. 

Ia menyebut, longsor biasanya diawali dari rekahan berbentuk tapal kuda di atas bukit.

Jika melihat ada rekahan seperti itu, warga harus segera memantau dan mengawasinya tiap waktu agar tidak kecolongan. 

Baca juga: Hebat, Atlet Panahan Asal Purbalingga Berhasil Raih Medali Emas di Peparnas Papua

Baca juga: KREATIF! Anak-anak SDN Pedurungan Tengah 2 Semarang Foto Jadi Cosplay Pahlawan

Jika pergerakan tanahnya cepat, warga bisa langsung mengungsi di daerah lebih bawah atau yang lebih aman. 

"Kalau gerakannya lambat, masih bisa ditutup rekahannya, dan jangan biarkan ada air masuk ke dalam rekahan. Maka hal itu bisa mencegah longsoran," katanya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved