Berita Video
Video Lunpia Gang Lombok Citarasa Otentik Membuat Pengunjung Rela Antri Berjam-Jam
Semarang identik dengan lunpia sebagai pilihan buah tangan hingga dijuluki Kota Lunpia.
Penulis: amanda rizqyana | Editor: abduh imanulhaq
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Berikut ini video Lunpia Gang Lombok citarasa otentik membuat pengunjung rela antri berjam-jam.
Membawa buah tangan selalu menjadi pilihan bagi setiap orang yang sekadar singgah, berwisata, kunjungan dinas, mengunjungi keluarga maupun handai taulan.
Kota Semarang sendiri identik dengan kuliner lunpia sebagai pilihan buah tangan hingga dijuluki sebagai Kota Lunpia.
Lun atau lum merupakan bahasa Hokkian yang bermakna empuk atau lembut tergantuk dialek pengucapannya.
Pia bermakna kue. Banyak orang melafalkan lunpia maupun lumpia untuk makanan yang digulung ini.
Tak banyak yang tahu bahwa makanan berbahan bambu muda atau rebung, telur, ayam, dan udang dan dibungkus kulit tipis ini merupakan makanan kolaborasi penuh cinta.
Lunpia bahkan diwariskan turun-temurun hingga lima generasi sejak lebih dari 1,5 abad lalu.
Awalnya, lunpia dijajakan keliling dengan gerobak pikulan, dibungkus kantong anyaman bambu atau brongsong dan hanya tersedia pilihan lunpia basah. Daya tahan lunpia basah hanya sekitar 12 jam.
Berjalannya waktu, dilakukan kreasi lunpia baru yakni menggoreng lunpia dan menghasilkan lunpia yang memiliki daya tahan hingga 24 jam. Bahkan kini dilakukan pula inovasi dalam isian dan penyajian maupun pengemasan lunpia.
Lunpia dikreasikan oleh pasangan suami-istri Tjoa Thay You dari Fujien Tiongkok dan Wasih dari Semarang pada 1870. Kolaborasi penuh cinta ini menghasilkan lunpia yang dinikmati cabai rawit hijau, daun bawang, acar timun, dan saos weciau atau saos manis.
Warisan cinta ini tak hanya bisa dinikmati sebagai buah tangan, namun menjadi usaha keluarga pada keturunannya.
Keduanya mewariskan lunpia pada anak tunggal mereka, Tjao Po Nio dan sang menantu Siem Gwan Sing. Keduanya memiliki anak-anak yang juga menekuni lunpia, yakni: Siem Swie Nie, Siem Swie Yek, Siem Hwa Nio, Siem Swie Hie, hingga Siem Swie Kim.
Kelimanya mewariskan keahlian dan resep rahasia lunpia dari kakek-nenek mereka pada para keturunan mereka. Dari keturunan merekalah kemudian muncul Loenpia Gang Lombok, Loenpia Mbak Lien, Loenpia Pak Edy, Lunpia Delight atau Lunpia Cik Meme, Java Loenpia, dan Lunpia Mataram.
Kali pertama lunpia dipasarkan Gang Lombok Nomor 11 Kelurahan Purwodinatan Kecamatan Semarang Tengah Kota Semarang. Lokasi ini berada di depan Klenteng Tay Kak Sie.
Di sinilah lokasi cikal bakal lunpia semakin dikenal hingga orang-orang dengan mudah mengasosiasikan lunpia yang berada di Gang Lombok sebagai Lunpia Gang Lombok. Nama ini melekat hingga sekarang dengan lokasi yang sama sejak 150 tahun lalu.
Lunpia Gang Lombok dikenal sebagai lunpia dengan cita rasa otentik yang konsisten dan menjadi pilihan oleh-oleh lunpia. Pilihan lunpia hanya lunpia basah dan lunpia goreng seharga masing-masing Rp 18 ribu per biji.
Lunpia dibungkus kertas roti untuk menyerap minyak dan dikemas dalam besek bambu. Besek bambu kecil untuk lunpia isi 5 dan besek bambu besar untuk lunpia isi 10.
Di warung yang seluas sekira 10 m2 ini digunakan untuk mengolah bahan isian, menggulung lunpia, menggoreng lunpia, menyajikan lunpia, mengemas, hingga transaksi jual-beli lunpia. Nampak depan, kios ini penuh besek bambu yang masih dalam ikatan.
Konsep open kitchen yang ada di Loenpia Gang Lombok ini memberi gambaran proses pengolahan lunpia yang terjamin kualitas dan kesegarannya karena langsung dimasak, digulung, dan digoreng di tempat.
Menariknya, lunpia yang baru matang harus dikipasi agar lekas mendingin dan bisa segera dikemas. Alasan proses pendinginan dengan kipas ini agar lunpia tidak mengembun dan membuat lunpia menjadi kurang renyah dan kurang tahan lama.
Lokasi yang cukup sederhana ini nyaris tak pernah sepi pembeli, apalagi saat akhir pekan.
Vincent Setiawan Usodo, cucu dari Siem Swie Kim menyatakan ia mendapatkan amanat dari sang kakek untuk mempertahankan rasa dan kualitas lunpia otentik. Itulah alasannya tetap berpegang pada isian rebung, telur, udang, dan ayam dan tak ingin memodifikasi resep turun-temurun tersebut.
Tak hanya rasa yang tak berubah, pengemasan dengan besek bambu dan desain sampul kemasan pun belum berubah dengan ilustrasi klasik 1970an.
Meski demikian, sebagai orang yang bertanggung jawab atas keberlanjutan usaha keluarga, Vincent mengaku ingin bisa memberi kenyamanan pada konsumen. Ia menyadari banyak konsumen yang kecewa karena harus mengantri lama atau tak bisa mendapatkan lunpia kesayangannya.
"Kalau pas weekend, warung belum buka, pembeli ngantri sampai jalan, bahkan kami sendiri nggak bisa keluar dan masuk dari kios. Pembeli bisa menunggu sampai tiga jam untuk mendapatkan lunpia pesanannya," ujarnya pada Selasa (9/11/2021) sore.
Vincent mengaku, saat ini sebagian besar pemegang usaha lunpia merupakan generasi kelima, artinya relasi mereka masih sepupu.
Meskipun secara bisnis mereka merupakan kompetitor lunpia, menurutnya hal tersebut tak menjadi masalah.
Pasalnya bagaimana usaha keluarga besarnya membesarkan masing-masing jenama lunpia merupakan upaya untuk melestarikan kuliner khas Semarang. Mereka masih berkomunikasi dan tetap hangat saat berkumpul di momen keluarga.
Legendarisnya rasa Loenpia Gang Lombok diakui oleh Sonia, warga Solo yang kini tinggal di Jakarta.
Sudah 20 tahun lalu sejak kali pertama mencicipi lunpia hingga sekarang, menurutnya Loenpia Gang Lombok lah yang rasanya konsisten.
Ia mengaku sudah mencoba berbagai jenama lunpia dan menurutnya Loenpia Gang Lombok inilah yang memiliki rasa asli lunpia yang tak pernah berubah. Seperti halnya konsumen yang lain, ia rela menunggu satu jam hingga pesannya siap untuk dibawa.
"Udah coba beberapa lunpia, tetep balik lagi ke sini. Kalau antri satu jam itu menurut saya sebentar, kadang saya pesan hari ini baru bisa diambil besok. Tapi saya tetep mau nungguin," terangnya.
Loenpia Gang Lombok buka setiap hari mulai pukul 8.00-17.00 dan tidak membuka cabang di manapun.Selama pandemi, tidak menyediakan pilihan makan di tempat. Pembeli hanya diperkenanankan memesan untuk dibawa pulang.
Loenpia Gang Lombok tidak tersedia di aplikasi pesan-antar makanan. Bagi pembeli yang enggan mengantri atau sedang tidak bisa membeli langsung, bisa memesan melalui Gosend ataupun Goshop. (*)
TONTON JUGA DAN SUBSCRIBE: