Breaking News:

Berita Semarang

Pelatihan Berjenjang Dorong Peningkatan Omzet Usaha Karunia

Pelatihan berjenjang memberikan dampak positif bagi para peserta, salah satunya Adini.

Penulis: Idayatul Rohmah | Editor: sujarwo
Tribun Jateng/Idayatul Rohmah
Adini Filsafatun (30)memiliki usaha olahan dari singkong. 

TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Pelatihan berjenjang yang diadakan oleh Balatkop Provinsi Jawa Tengah dengan Dinas Koperasi UKM Provinsi Jateng memberikan dampak positif bagi para peserta. Di antaranya dirasakan Adini Filsafatun (30), pelaku UMKM di Kabupaten Banjarnegara.

Adini yang memiliki usaha olahan dari singkong tersebut menuturkan, omzetnya mengalami peningkatan setelah menerapkan ilmu yang diajarkan mentor Bio Hadikesuma Management Training & Consulting (BHMTC).

"Sangat berdampak bagus, usaha kami terlihat lebih professional dibandingkan sebelumnya, ada kenaikan omset sekitar 2 kali lipat dari omset saat pandemi ini, kemudian ada beberapa pengusaha, perbankan dan akademisi yang tertarik dengan usaha kami setelah mengikuti kegiatan tersebut," jelasnya, kemarin.

Adini memiliki usaha bernama "Karunia". Dikatakan, Karunia didirikan pada tahun 2016 oleh Arin Listya Apriyani (36 tahun) karena keprihatinannya terhadap petani singkong di desa Pesangkalan, Kabupaten Banjarnegara.

Ia terenyuh sebab pada saat itu harga singkong hanya berkisar 200 sampai 800 perkilogram yang membuat para petani mengalami kerugian.

Kemudian Karunia berinisiatif untuk membuat olahan dari singkong, salah satunya yaitu tepung mocaf (modified cassava flour) agar bisa meningkatkan nilai ekonomi dari singkong tersebut.

"Karena saya juga memiliki usaha olahan pangan dari tepung mocaf, maka pada awal tahun 2021 saya dan mbak Arin akhirnya memutuskan untuk bekerjasama untuk mengelola usaha Karunia ini bersama-sama," kata Adini.

Adini melanjutkan, untuk produk Karunia sendiri memiliki target pasar masyarakat atau komunitas yang menerapkan gaya hidup sehat.

Sebab, dikatakan, keunggulan dari tepung mocaf tersebut di antaranya adalah gluten free. "Ini juga cocok bagi orang yang mengidap diabetes, autism, dan autoimun," tambahnya.

Adini menambahkan, usahanya tersebut menemui sejumlah kendala di antaranya terkait pemasaran produk. Dikatakan, jika dibandingkan dengan harga tepung terigu, tepung mocaf memiliki harga yang lebih mahal.

"Harga 1 kilogram terigu hanya berkisar Rp 8.000-12.000 per kg. sedangkan 1 kg tepung mocaf berkisar Rp 15.000-20.000 per kg. jika tidak melihat manfaat dari tepung mocaf maka masyarakat akan tetap memilih terigu dibandingkan tepung singkong. Padahal kita tahu bahwa tepung terigu merupakan 100 persen produk impor," ungkapnya.

Dengan mengikuti berbagai pelatihan, ia berharap dapat terus bisa melakukan perbaikan terhadap manajemen usahanya.

"Perbaikan manajemen dalan usaha kami adalah hal yang sangat dibutuhkan, sehingga pelatihan ini sangat membantu kami dalam memperbaiki manajemen usaha kami. Salah satunya adalah dibidang keuangan. Sebelumnya transaksi hanya dicatat dalam sebuah buku berupa pemasukan dan pengeluaran tanpa adanya neraca, cashflow, dan neraca laba rugi. Penentuan batch dan minimal produksi tiap bulan agar bisa menutup biaya operasional usaha kami, kami juga baru mengetahui caranya saat pelatihan ini. Jadi kami mulai tahu apakah usaha kami ini untung atau rugi, prospek atau tidak prospek setelah mengikuti pelatihan berjenjang ini," tukasnya. (*)

Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved