Breaking News:

Guru Berkarya

Memaksimalkan Model RME pada Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar

Matematika merupakan materi pembelajaran yang diberikan kepada semua jenjang pendidikan tak terkecuali pendidikan dasar.

Editor: abduh imanulhaq
IST
Priyanto SPd, Guru SDN 02 Tlogohendro Kec Petungkriyono Kab Pekalongan 

Oleh: Priyanto SPd, Guru SDN 02 Tlogohendro Kec Petungkriyono Kab Pekalongan

MATEMATIKA merupakan materi pembelajaran yang diberikan kepada semua jenjang pendidikan tak terkecuali pendidikan dasar. Matematika masih menjadi pembelajaran yang menakutkan bagi sebagian besar siswa di lembaga pendidikan atau sekolah.

Pemberian pembelajaran matematika sebenarnya bertujuan agar siswa menguasai kemmapuan untuk menggunakan penalaran dalam pola dan sifat, melakukan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, dan menyusun bukti atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika. Kemudian memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menyelesaikan modul dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Tujuan-tujuan tersebut menjelaskan bahwa siswa harus fokus mengembangkan beberapa kompetensi selama proses pembelajaran matematika termasuk kompetensi dalam pemecahan masalah.

Kemampuan pemecahan masalah adalah salah satu kompetensi penting yang harus dimilki siswa. Siswa cenderung memiliki kompetensi yang rendah dalam pemecahan masalah terutama pada pembelajaran matematika seperti yang terjadi di SDN 02 Tlogohendro Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan.

Siswa selalu menemukan kesulitan ketika melaksanakan pembelajaran matematika dan kesusahan dalam memecahkan permasalahan dan problematika matematika. Hal ini salah satunya disebabkan oleh karakteristik matematika yang mempunyai objek bersifat abstrak dan penyampaian pembelajaran matematika yang kurang humanis.

Guru seringkali menampilkan pembelajaran satu arah dan menutup keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. Akhirnya model pembelajaran seperti ini yang menyebabkan siswa enggan mengikuti pembelajaran dengan seksama.

Siswa akan cenderung tidak fokus, melamun, bermain sendiri dan mengganggu siswa lainnya. Akibatnya hasil belajar siswa menjadi menurun dan tidak sesuai yang diharapkan. Selain itu, pada pembelajaran matematika guru cenderung memberikan rumus tanpa mengajak siswa menemukan konsepnya, sehingga proses pembelajaran yang terjadi menjadi tidak bermakna.

Dominasi guru pada proses pembelajaran harus diminimalkan. Guru harus bisa membimbing siswa untuk menemukan konsep matematika sendiri. Guru mengajak siswa mengaitkan materi yang diajarkan dengan benda-benda dalam kehidupan nyata.

Guru menerapkan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan pembelajaran matematika. Menurut Agus Suprijono (2011: 45), model pembelajaran adalah pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas maupun tutorial. Salah satu model pembelajaran matematika yang berorientasi pada matematisasi pengalaman sehari-hari dan menerapkan matematika dalam kehidupan sehari-hari adalah Pendidikan Matematika Realistik Indonesia (PMRI) atau dikenal dengan RME (Realistic Matematics Education).

Model RME adalah model pembelajaran yang menggunakan konteks kehidupan nyata. Pembelajaran Matematika Realistik memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan kembali dan merekonstruksi konsep-konsep matematika, sehingga siswa mempunyai pengertian kuat tentang konsep-konsep matematika.

Pembelajaran Matematika Realistik akan mempunyai kontribusi yang sangat tinggi terhadap pengertian dan pemahaman siswa. Teori ini dimaksudkan untuk memulai pembelajaran matematika dengan cara mengaitkan situasi nyata di sekitar siswa terutama pembelajaran matematika kelas 4 tentang menghitung keliling dan luas jajargenjang dan segitiga.

Langkah penerapan pembelajarannya adalah dimulai dengan guru memberikan motivasi siswa. Kemudian guru mengkomunikasikan tujuan pembelajaran. Guru memulai pembelajaran dengan mengajukan masalah yang nyata bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya secara sederhana.

Guru meminta siswa untuk mengembangkan atau menciptakan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan atau masalah yang diajukan secara langsung. Pelaksanaan pembelajaran matematika tentang menghitung keliling dan luas jajargenjang dan segitiga menggunakan model pembelajaran RME dapat berjalan dengan baik.

Siswa sangat menikmati proses pembelajaran dalam setiap tahapannya dan siswa sangat secara cepat dapat memahami materi pembelajaran dengan baik. Hal ini dapat dibuktikan dari hasil evaluasi akhir sangat meningkat secara signifikan. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved