Breaking News:

Capai 5,73 Miliar Dollar AS, Surplus Neraca Perdagangan RI Cetak Rekor Lagi

Realisasi kinerja neraca dagang Oktober 2021 itu membuat Indonesia mengalami surplus neraca dagang selama 18 bulan berturut-turut.

Editor: Vito
TRIBUNJATENG/DOK
FOTO DOKUMEN Aktivitas bongkar muat di Terminal Peti Kemas Tanjung Emas Semarang. 

TRIBUNJATENG.COM, JAKARTA - Neraca perdagangan Indonesia kembali mencetak surplus pada Oktober 2021. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, surplus neraca perdagangan pada bulan laporan sebesar 5,73 miliar dollar AS.

Merunut data BPS, nilai surplus neraca perdagangan itu kembali mencetak rekor tertingginya menggantikan posisi Agustus 2021 yang tercatat sebesar 4,74 miliar dollar AS.

Kepala BPS, Margo Yuwono mengatakan, surplus jumbo pada Oktober 2021 itu didorong peningkatan baik nilai ekspor maupun nilai impor.

Nilai ekspor tercatat 22,03 miliar dollar AS, atau naik 6,89 persen month to month (mtm) dan secara tahunan naik 53,35 persen yoy.

Sementara nilai impor tercatat 16,29 miliar dollar AS, atau naik 0,36 persen mtm dan secara tahunan naik 51,06 persen yoy.

Realisasi kinerja neraca dagang Oktober 2021 itu membuat Indonesia mengalami surplus neraca dagang selama 18 bulan berturut-turut.

Jika dilihat sejak Januari hingga Oktober 2021, atau secara kumulatif, Indonesia mengalami surplus sebesar 30,81 miliar dollar AS.

Capaian itu lebih tinggi dibandingkan dengan periode sama tahun lalu, yakni sebesar 16,93 miliar dollar AS.

“Ekspor Oktober 2021 cukup tinggi naiknya. Kalau dipilah, migas secara yoy meningkat 66,84 persen, dan non-migas meningkat 52,75 persen yoy,” katanya, via video conference, Senin (15/11).

Margo menuturkan, surplus neraca perdagangan pada Oktober 2021 ini didukung beberapa komoditas, seperti bahan bakar mineral, minyak dan lemak hewan nabati, serta besi dan baja.

Harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia naik sebesar 13,3 persen secara bulanan atau 114,87 persen secara tahunan.

Beberapa komoditas lain juga mengalami peningkatan harga, di antaranya batu bara sebesar 27,58 persen mtm, minyak kelapa sawit 10,62 persen mtm, dan minyak kernel sebesar 26,62 persen mtm.

Namun demikian, ada komoditas yang mengalami penurunan harga, yakni nikel yang turun sebesar 0,07 persen mtm.

Sementara dari negara mitra dagang, surplus didorong kinerja surplus dengan beberapa negara, terbesar dengan negara Amerika Serikat (AS) yang tercatat 1,7 miliar dollar AS, China sebesar 1,3 miliar dollar AS, serta Filipina sebesar 685,7 juta dollar AS.

Ke depan, Margo berharap surplus yang cukup tinggi ini akan berlanjut, dan kinerja ekspor yang baik bisa dipertahankan, sehingga bisa membawa dampak positif pada pemulihan ekonomi. (Kontan.co.id/Bidara Pink/Tribun Network)

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved