Breaking News:

OPINI

OPINI Paulus Mujiran : Fenomena Relawan Politik dalam Kontestasi Demokrasi

Kontestasi demokrasi pemilihan umum (umum) baik legislatif maupun eksekutif masih akan berlangsung pada 2024.

Tribun Jateng
Paulus Mujiran 

Oleh Paulus Mujiran

Alumnus Pascasarjana Undip Semarang

Kontestasi demokrasi pemilihan umum (umum) baik legislatif maupun eksekutif masih akan berlangsung pada 2024. Meski pemilu masih akan digelar 3 tahun lagi kemunculan para relawan politik tak terbendung.

Sejumlah relawan politik bermunculan bahkan telah mendeklrasikan calonnya seperti kelompok relawan Poros Prabowo-Puan yang memberikan dukungan kepada Prabowo Subianto, dan Ketua DPR Puan Maharani, Relawan Puan for President 2024, Sandiaga Uno memiliki Relawan Kawan Sandi (RKS).

Ada juga relawan Pendukung Cinta Republik (PCR) yang mendukung Luhut Binsar Pandjaitan-Erick Tohir. Sahabat Ganjar untuk Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, Aliansi Nasional Indonesia Sejahtera (ANIES) untuk Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan tidak mau ketinggalan Relawan Ridwan Kamil untuk Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Sejak reformasi bergulir 1998 silam, dari pemilu ke pemilu ditandai dengan munculnya relawan-relawan politik sebagai bentuk demokrasi participatoris. Munculnya kelompok relawan ini diharapkan membuat dinamika politik semakin kompetitif dan diperhitungkan oleh partai politik sebagai peserta pesta demokrasi. Basis massa relawan politik sangat riil sehingga sangat mungkin ini cermin partisipasi masyarakat yang sesungguhnya.

Munculnya relawan politik ini diharapkan menjadi kekuatan alternatif munculnya kekuatan non partai yang selama ini tenggelam oleh dominasi oligarkhi kepartaian. Kondisi ini menyebabkan dinamika politik akar rumput meredup dan semua pengambilan keputusan politik dilakukan oleh elit. Ruang kemuculan relawan-relawan politik ini turut disokong media massa baik media mainstream maupun media sosial yang secara intensif memberitakan ruang gerak para relawan.

Dalam hal ini kehadiran relawan tidak dapat disebut sebagai partisipasi yang dimobilisasi karena lahir dari kehendak sukarela untuk menyemarakkan pesta demokrasi. Dalam sejarah politik mengacu pada M. Fr. Voluntaire (1755) dalam Bambang Arianto (2014) munculnya gerakan relawan ketika seseorang memberikan pelayanan kepada tentara yang berperang. Tugasnya adalah mengabdi secara ikhlas dalam kegiatan altruistik untuk mendorong, memperbaiki, meningkatkan kualitas kehidupan di bidang sosial, budaya dan ekonomi.

Istilah yang diambil dari bahasa Jerman “aktivismus” dan kemudian dipergunakan menandai prinsip keterlibatan politik secara aktif oleh kaum intelektual. Bukan hanya pemikiran tetapi usaha membela dan mewujudkan pemikiran tersebut. Sejak 2014 sampai sekarang relawan politik ini bukan merupakan bagian dari partai politik. Kehadiran mereka bukan karena daya tarik partai politik tetapi melampaui batas-batas kepentingan partai.

Ketika partai belum memunculkan calon presiden (capres) 2024 para relawan ini dengan “gagah berani” mendeklarasikan diri calon mereka dalam kontestasi pilpres. Relawan politik dapat dikategorikan sebagai berikut, Pertama, relawan yang berasal dari mantan aktivis tahun 1990-an atau aktivis pro-demokrasi yang di masa Orde Baru bertujuan untuk menggulingkan rezim Soeharto.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jateng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved